Wednesday, October 2, 2013

Too Good To Be True

Aku udah membuat kesimpulan dari beberapa orang, entah lewat dengerin ceritanya, ngobrol langsung tentang ini, atau dari kisah-kisah nggak langsung lainnya. Intinya semua orang punya their too good to be true. Cewek cowok semua punya.

Kebanyakan too good to be true-nya mereka itu cita-citanya, yang biasanya udah terangkum paket manis bertahap, dan kalau dijalani bakal serasa besok mati aja udah ikhlas asal ada too good to be true-nya disampingnya. Yang serasa tawa anak kecil di jok belakang mereka udah pasti mereka dapetin. Yang serasa kopi pagi yang di meja pasti pas rasanya. Yang serasa setiap siang ada karya yang siap dikeluarkan. Yang serasa setiap sore mereka selalu naik vespa keliling jogja dan akhirnya makan nasi goreng di tengah kota berdua. Mungkin ini adalah sisi idealis masa muda.

Semacam mereka terbunuh oleh harapan mereka sendiri (dan ada yang trauma), karena kebanyakan too good to be true-nya adalah mantan. Tapi temen samping kelas, too good to be true-nya adalah gebetannya, yang udah jalan kemana, lendotan kapan aja, kenal sama siapanya, tapi akhirnya tiba-tiba lost contact juga dan hilang. Pada akhirnya dia wisuda, diucapin. Yaudah. Selesai. Nothing special.

Ada juga yang mantannya dari SMA, yang tumbuh bareng, evaluasi bareng, berkembang berencana bercita-cita bareng. Tapi akhirnya putus juga, dan belum bisa move on sepenuhnya sampe sekarang. Yang kalo sekarang ketemu masih speechless. Yang kalo ketemu  masih gemeteran. Yang kalo ketemu masih aduh-aku-harus-ngapain. Yang kalo kata Mamanya Ardhi, “masih bergetar nggak kalo denger namanya?”

Masih di mantan jaman SMA, ada yang putus gara-gara hal yang sangat sepele dan sampe sekarang dia masih menyesal melakukan hal itu. Kejadiannya ya masih sama. Masih bergetar, masih kepoin sana sini, masih curhat ke sahabat mantannya nanyain gimana dia sekarang. Dan walaupun udah punya pacar (tapi insekyur), dia masih glundang-glundung nunggu sms-nya doi.Bahkan dia bersedia merubah kebiasaannya dia demi balikan, yang nggak pacaran, tapi cukup komitmen.

Yang ini cinta di masa kuliah, putus sama mantannya karena cinta beda agama. Padahal langkah mereka tinggal ngasih proposal ke orang tua. Dan sampe sekarang kalo mereka ketemu di acara reunian masih suka bahagia berdua dan sifat-sifat mudanya keluar.

Dan ada juga yangmerasa udah punya kisah paling indah. Dari cara ketemu sampe cara jadian. Yang kemana-mana bareng. Yang suka membagi kebahagiaan mereka dengan kartu ucapan selamat ultah dengan foto mereka berdua. Yang nungguin pasangannya dateng untuk mulai makan di acara ulang tahun sahabat mereka, walaupun itu rame dan yang lain udah mau selesai. Yang setiap minggu mereka gembira rencanain mau jalan kemana. Yang mereka udah sangat cocok, yang satu udah menemukan figurnya dan yang satu udah senyamannya pasangan. Yang mereka udah jadi moodbooster satu sama lain. Yang good-morningnya selalu bright-up harinya. Yang akhirnya sayang satu sama lain mereka berlebih, sayang mereka udah nggak membebaskan, mulai risih dengan perhatian posesifnya. Akhirnya putus dan janji-janji mereka jadi janji pengecut satu per satu. Yang satu diantara mereka udah nggak percaya lagi satu sama lain. Yang ini too good to be true-nya saya.


Di dunia ini nggak ada too good to be true sebenernya, karena kita yang bikin sendiri too good-nya. Too good is just matter of perspective. Di dalem diri aja udah bilang too good apalagi di luar? Karena semua orang mencari orang yang perfect bagi dia, yang bisa menerima apa adanya tapi juga punya visi, yang bersabar dalam situasi apapun tapi punya opini untuk nyanggah satu sama lain, atau apalah idealmu. Tapi sebenernya kita hanya perlu orang yang benar menjadi dirinya sendiri di depan kita, dan kita menjadi diri kita sendiri di depan dia. You don’t need perfect person, you need honest person.

Monday, August 12, 2013

Dear Prudence: A Dedicated Post

Tepat seminggu meninggalnya kakakku yang kedua. Sebut saja Ama (nggak usah tanya juga kenapa).Ikhlas sih udah, tapi cuma mau berbagi berbagai hal tentang dia aja sih. Tanpa berniat membawa duka ke blog ini.

Iya, Senin 5 Agustus dia meninggal. Karena kecelakaan hari Sabtu tanggal 3 Agustus, tepat di hari ulang tahunnya. Yang pas sahur masih bercanda-bercandaan, habis subuhnya udah ditelfon sardjito kalo Ama kecelakaan dan masih belum sadar.

Dia total 2 malem kritis, udah banyak doa yang ditujukan buat dia. Udah banyak buah yang disiapin buat pemulihan keadaannya dia. Udah banyak cerita yang mau dibagi buat dia. Ya mau apa lagi?

Ceritanya, Ama ini mau nganter barang yang mau dibawa berangkat temennya ke Riau flight jam 7 pagi, makanya habis subuh udah berangkat. Semalemnya dia nganter temennya yang Riau ini muter-muter cari segala macam barang buat dibawa mudik, dan ada yang ketinggalan di rumah, dan dianter ke kost. Loyal.

Ama juga punya pacar. Ama ini pacar pertamanya. Mereka udah sekitar 6 bulan bareng, sejak KKN di Cilacap (iya cerita cinta mahasiswa banget, ketemu di KKN hahaha). Hubungan mereka sederhana, saling menjaga, tidak berlebihan, ala kadarnya, pas. Udah dua kali setelah meninggalnya Ama, sang pacar nginep rumah. Yang pertama aku sama dia ngobrol semua yang mereka alamin, ketemu, ndeketin, ah semuanya. Nginep yang kedua kemarin, topik masih sama. Ya emang berat, apalagi Ama udah diplanning bakal jadi yang terakhir. Satu hal yang disesalkan sang pacar, pada hari-hari terakhirnya, dia terlalu sibuk sama kerjaannya, jadi Ama ngerasa dicuekin dan (ya taulah) sms berkali-kali gitu. Baru kemarin malem sang pacar ngomong ke aku “makanya dek, kalo ada orang yang sayang harus disambut, jangan dicuekin, sakit,” dan … nusuk.

Hari besok nggak ada lagi yang bukain pintu malem-malem. Nggak ada yang tidur di kursi tengah buat nunggu adeknya pulang malem (walaupun udah tak suruh tidur). Nggak ada lagi yang baru pulang masuk rumah udah ada yang teriak-teriak nyapa. Nggak ada lagi yang baru suntuk nugas di kamar terus ada yang masuk tanya kabar. Udah nggak ada pacar-pacaran lagi (aku sama Ama dikira pacaran kalo pergi berdua). Udah nggak ada pundak sandaran tidur.Udah nggak ada yang toel-toel lagi. Udah nggak ada yang tak bikin latah. Udah nggak ada yang nonton film bareng sampe ngakak. Udah nggak ada puding coklat dingin disabtu siang. Udah nggak ada temen ngaji bareng. Udah nggak ada temen curhat. Udah nggak ada lagi Ama.
Salut sama temen-temennya Ama, yang nungguin tiap malem tidur shift-shiftan bareng sekeluarga buat nungguin, bisikin cerita disamping dipannya Ama. Salut yang nyariin orang buat donor darah, sampe antri dan sampe ditolak-tolak PMI karena stoknya masih cukup. Salut sama temen-temennya yang ikut Yasin diakhir waktunya.

Yang bikin merinding juga keluarga besar yang dateng gitu aja begitu denger kabar Ama kecelakaan. Setidaknya segera ada temen berdoa buat Ama. Yang sampe diusir-usir satpam ruang IMC. Ama, kamu nggak tau berapa banyak orang yang jenguk kamu, berdoa buat kamu supaya cepet sembuh balik seperti semula.

Serumah masih suka tiba-tiba ngrasa ada yang kurang di ruang tengah. “Ini rasanya kaya Ama baru pergi,” kata Ibuk. Masih suka berharap tiba-tiba ada motor dateng buka pintu masuk rumah terus nyapa Assalamualaikum terus Ama ikut gabung di ruang tengah.

Ah sudahlah. Udah seminggu juga. Setidaknya dia meninggal karena memperjuangkan sesuatu. Ada yang bilang yang baik itu cepet dipanggil. Ada yang bilang juga kalo Ama kelamaan di dunia jadi nggak bersih lagi. Ada yang bilang mati muda itu jalan terbaik. Ada yang bilang juga dia terlalu disayang Tuhan. Mau dikata apa semoga rencana Tuhan lebih indah.

Tuesday, July 30, 2013

Kata yang Berkembang

Semalam berbincang bersama sahabat lama. Diantara jus pisang, mengembalikan obrolan hangat yang udah berbulan hilang. Topik meluncur dari topik tabu (IP kuliah) sampe bab gebet menggebet. Setelah beberapa kisah cinta anak kuliah menguap, ada beberapa bagian membenang merah, masih  tentang cinta mencinta, ada beberapa tanda yang datang menyertai:

Daging diantara mesin
Daging itu bertumbuh sedangkan mesin ditumbuhkan. Ketika seseorang melihat yang lain seperti mesin, mempasif, hanya tentang keteraturan, dan rutinitas. Maka jika dia, sosoknya seolah hidup, menghidupkan, ataupun saling terhidupkan. Sedangkan kepada yang lain tidak.

Pohon diantara listrik
Pohon yang jejer-jejer dengan tiang listrik. Ketika yang lain hanya sebagai penyambung hidup yang tegak dan dingin, pohon bisa berdiri hangat memberi kehidupan. Tidak hanya yang berlalu cepat sudah saja. Tapi sempat mampir untuk diam menghirup makna, bersantai mengingat hari, sandaran relaksasi, atau yang setia menunggu kembali dengan ikatan tanpa sadari.

Kata diantara tanda
Ketika berkata dengan yang lain berakhir dengan “oh iya” “iya to?” atau “welok!”, iya, berkata dengan yang lain selalu berakhir dengan tanda. Tapi jika tentang dia, ada kata yang selalu berturut dan tergambarkan kabur untuk dia, kata yang terasa dan terbata halus.

Koma diantara titik
Ketika berbicara dengan orang lain cepat bertemu titik, dengannya selalu ada koma dan sulit berakhir. Hingga saling bingung mencari cara untuk mengakhiri jamuan pertemuan yang cepat malam.

Ah naif, cinta selalu naif untuk diberbincangkan. Kadang cinta sesederhana daging, pohon, kata, bahkan koma. Atau kadang cinta semaknanya menjadi orang yang terpahami atau semaknanya terperosok dan butuh seseorang untuk bilang “nggak papa, ayo berdiri.” Berlogika tentang cinta membuat sadis, berasa dengan cinta membuat naif. Bahkan menulis tentang cinta dengan berusaha menggabungkan logika dan rasa, seolah koyo cah kurang turu (orang kurang tidur, ealah).

Ya semoga kekurang-turuanmu membimbingmu kepada sang daging, sang pohon, sang kata, sang koma. Lengkap, tanpa kurang. Cheers! *tos jus pisang*

Sunday, July 14, 2013

Dikotomi

Ada satu hal yang bener-bener sepaket, nggak bisa dipisahkan. Positif dan negatif. Semua sesuatu memilikinya. Seperti laper dan butuh makan, kamu akan kenyang dan uangmu berkurang. Seperti belajar, kamu akan pintar dan waktumu akan terbuang membosankan. Seperti naksir seseorang, kamu akan dibalas dan dicampakan. Seperti takut hantu yang mungkin sekarang ada di sampingmu, kamu akan takut dan semakin beriman. Seperti berencana masa depan, kamu akan berhasil atau oleng seketika.




Begitupun diri, ketinggian badanmu akan memberimu manfaat ketika nonton dari belakang kerumunan, atau keliatan banget kalo bajumu kedodoran. Yang penting itu bukan seberapa banyak positif dan negatifnya, yang penting bagaimana kita bisa tau dengan jelas positif negatif dan sadar tentangnya, lalu menggunakannya saat tepat dan waktu sedia. Semua seperti sepaket mempunyai dua sisi mata uang yang bersama tidak terpisahkan dan saling bertolak belakang, dikotomi.

Friday, May 17, 2013

Why Simple Is Needed

Kenapa simpel itu dibutuhkan.

Ada dua hal yang tidak bisa ditawar di dunia, ruang dan waktu. Sesungguhnya semua yang dilakukan manusia hanya untuk merekayasa keduanya.

"Semakin sini saya semakin benci, manusia melawan kodratnya," Pak Ridwan, guru seni rupa.

Memang kodrat begitu adanya, yang ber-Tuhan mari percaya.

Perilaku manusia yang paling bisa diandalkan adalah unconscious dan subconscious. Ketika perilaku yang menggerakan kedua tingkat kesadaran berikut, yang bekerja adalah nurani dan hati, tanpa pikiran tanpa maksud, murni sedari awal. Dan yang terpenting darinya adalah: tidak mengharap.

Semua keadaan, masalah, dan hikmah, selalu dapat diintegralkan menjadi satu alasan. Dan kita hanya butuh satu untuk menggerakan selanjutnya, Tuhan.

Sunday, March 24, 2013

Inner Peace


"I found inner peace and was able to harness the flow of the universe."


Inner peace itu kedamaian batin, ketika batin damai dan tentram maka semua kemungkinan dapat tercapai. Ada beberapa cara buat dapetin inner peace, salah satunya meditasi, tapi meditasi harus dilakukan berulang. Ada beberapa langkah yang dilakukan agar inner peace bisa lebih tahan lama dari proses meditasi.

Be honest and receive.
Langkah pertama adalah jujur kepada diri sendiri. Kita harus menyadari mau menerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri, karena dari kekurangan itu, dapat dicounter jadi kelebihan, dan sebuah kelebihan juga memiliki kekurangannya. Tidak ada yang murni baik dan tidak ada yang murni buruk.

Be yourself.
Tuhan menurunkan kita ke dunia memunyai maksud tujuan yang khusus. Setiap orang mempunyai fungsinya masing-masing. Apapun keadaannya, dimanapun tempatnya usahakan menjadi diri sendiri. Karena kepribadian orang lain sudah ada yang pakai. Meminta saran kepada orang lain itu perlu, disarankan malah, tetapi keputusan akhir tetap pada pelakunya, kamu. Walaupun, adaptasi penting dan harus.

Make a boundary.
Dunia itu luas, semua informasi yang kamu suka dan tidak suka mudah sekali datang. Bukannya skeptis bukannya sombong akan kemampuannya sendiri, tapi poinnya bukan berapa banyak informasi yang masuk tapi seberapa bermanfaatkah informasi yang masuk. Kita tidak bisa menampung semuanya.

Share your honest.
Setelah jujur kepada diri sendiri harus jujur kepada orang lain. Kebenaran sejati adalah kebenaran yang diakui orang lain.

Sadar dengan apa yang dilakukan.
Sering kita melakukan sesuatu asal-asalan, ketika jatuh akhirnya kelabakan. Sebaiknya memulainya harus dengan berpikir agar tanggung jawab dapat dilakukan. Walaupun tetep harus berani, harus risk taker. Dan tidak menutup kemungkinan untuk mencoba sesuatu yang baru.

Do what you love and love what you do.
Be happy with your day! Mau bagaimanapun, menikmati proses itu yang utama. Karena proses yang baik akan membawa hasil yang baik pula. Karena proses yang bahagia akan berakhir bahagia.

Stick to the plan, follow your passion.
Dunia ini bukan tentang seberapa menderitanya perjuanganmu, tapi dunia ini tentang seberapa menyenangkannya apa yang kamu lakukan. Cita-cita dan passion merupakan dasar untuk berbuat. Dasar dari ini semua adalah ikhlas dengan apa yang dikerjakan, dan yang paling ikhlas saat kita dijalur yang direncanakan, karena jika kita tidak menyiapkan rencana, orang lain yang akan merencanakan kita.

May the Force be with you.
Semua kuasa ada ditangan Tuhan. Sisakan harimu untuk menyadari bahwa kamu tetaplah ciptaan yang sama dengan orang-orang lain dan yakinkan rencana Tuhan selalu lebih indah.

Be happy, folks!

Monday, January 28, 2013

The Ability to Hope Nothing


“Semakin dicari semakin tidak ketemu”

Baru aja buka bukunya ‘mind, body, & soul’nya Yakub Utama. Kutipan diatas adalah kutipan yang paling menarik. Biasanya orang ingin mencari sesuatu ingin mendapatkan sesuatu itu berusaha dengan keras dan tanpa henti yang disebut berjuang. Tapi berjuang keras tidak dengan usaha yang benar akan sama saja. Mending effortless tapi berhasil. Work effectively.

Dunia ini emang nggak semuanya bisa dimakan dicerna dimasukin mentah-mentah. Karena semua dibalik perkataan ada maksud tersembunyi. Umumnya kaya ‘gapapa’-nya cewek yang ditanya kamu kenapa itu dibaliknya apa, kaya ‘ga’-nya cewek yang ditanya marah apa enggak, kaya ‘have fun’-nya cewek ketika kamu pamit main fifa sama temen-temen. Itu tu ibarat kamu jawab ‘enggak’ ketika ditanya kamu laper apa enggak tapi di depanmu udah ada nasi padang segunung pake ayam pop aja 3. Selalu ada something untold.

Itulah sebabnya diadakannya tata krama, agar something untold tersebut tidak diperlakukan ngawur oleh orang. Privasi. Itu privasi masing-masing. Masing-masing punya something untold-nya.

Semakin dicari semakin tidak ketemu juga nggak bisa dimakan mentah. Kalo dimakan mentah, kita nggak ngitung ujian statistika tau-tau di portal dapet A. Nggak begitu. Semakin dicari semakin tidak ketemu adalah kita harus santai, harus mengerti proses, harus menikmati proses yang ada, nggak ngotot nggak apa.

Berapa banyak pasangan yang dari SMA pacaran bakal terus sampe foto ruang tamu? Memang ada yang jadi, tapi pasti mereka tarik ulur tetap saling meragu, dan ada nothing to lose-nya.

Berapa banyak tim bola yang gagal karena ngotot cuma sliding sana sliding sini?

Berapa banyak kalimat ambisi yang diawali dengan kata ‘harus’ tidak terjadi?

Karena faktanya, ketika kita hope nothing, kita menjadi bebas menjadi santai menyenangi proses. Karena faktanya banyak pasangan yang baru nikah itu yang pasangannya teman masa kecilnya entah SMP, SMA, bahkan SD. Karena niat mereka murni jernih, santai, dan tidak mencari. Karena yang dinilai Allah itu kemurnian niat.

Wednesday, January 23, 2013

Ob-la-di, Ob-la-da Life Goes On

Ada saat dimana kita ingin menjadi diri kita yang dulu. Diri kita seperti masa jaya tenar. Beberapa karena malas beradaptasi dengan lingkungan yang baru, personal branding yang dulu sudah terbentuk kini harus dibentuk lagi. Untuk membentuknya harus mulai berpikir bagaimana cara yang pas pada situasi yang sekarang ini. Jika formula yang tepat itu belum juga tertemu, biasanya seseorang mulai overthinking. Akan terlalu banyak ‘what if’ di kepalanya.

Masalahnya bagaimana kita terbuka dengan orang lain. Sepertinya media tulis-menulis seperti ini diciptakan untuk orang introvert membagi dunia yang ada pada dirinya (ekstrovert dunianya dunia nyata) membagi kisah pemikirannya. Walaupun beberapa ekstrovert memerlukan media ini untuk mengeluarkan apa yang terpendam.

Introvert cenderung lebih tertutup, sensitif, tetapi perasa, pemikir (sering overthinking), bisa terbuka seterbuka-terbukanya, tetapi hanya dengan beberapa orang yang telah dipercayainya. Dan sekali dia menaruh percaya, maka percaya itu benar nyata, malah kadang cenderung polos. Satu sifat introvert adalah setia, karena percaya yang benar nyata itulah setianya tidak mudah pudar.

Satu titik dimana seseorang ingin kembali pada dirinya dimasa lalu merupakan titik rendah introvert. Percaya dirinya buyar, harapan tipis, pemikiran overthinked, dan ngetwit galau setengah mati. Kadang kita menutup diri pada perubahan, walaupun kita tahu perbahan itu menuju baik.

But it’s not about hiding from the rain, but it’s about dancing in the rain. Yang kita hindari adalah prosesnya, proses panjang letih. Maka kita harus berpegang pada tujuan akhir? Tidak, tidak juga. Memang fokus kita pada tujuan akhir, tetapi proses yang membentuk kita. Sic transit gloria mundi, tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Life must goes on.



Pulang Malam


Ada beberapa hal yang terhubung dengan kebahagiaan. Salah satu kebahagiaan kecil adalah kesemprot air lembut yang dialirin di atas kepala kita di taman pintar, tapi kalo sengaja masang badan buat disemprot udah nggak seru hehehe.

Satu lagi yang menjadi sumber kebahagiaan saya, tetapi tidak bisa dilakukan setiap hari: pulang malem. Pulang malem disini diatas jam 22:30. Ketika jalan udah sepi dan yang rame cuma café. Kenapa menyenangkan membahagiakan?

Ketika pulang jam segitu udara dingin dan lumayan segar, jarang didapatkan dipagi hari karena banyak diantara nenek-nenek atau kakek-kakek kita yang masih bakar sampah setelah menyapu halaman. Untuk mendapatkan udara segar dipagi hari perlu bangun sebelum nenek-kakek tersebut bangun. Susah ya? Hehehe. Sebenernya udara segarnya juga boongan, wong oksigennya dikit. Tapi sensasinya sama hahaha.

Kedua. Kebanyakan toko sudah tutup dan baru mulai beres-beres mau tutup. Di toko yang sudah tutup, anak dan orang jalanan mulai menggelar selimut mereka dan mulai menggigil tidur. Setelah itu tinggal bertanya saja ‘nikmat Tuhan apa yang akan kamu dustakan?’

Ketiga. Beberapa orang masih sibuk bekerja. Tukang martabak dan tukang delivery order. Mengingatkan kita akan kecintaan pekerjaan (atau mepetnya keadaan?).

Keempat. Bau asap sate yang begitu jernih dari tukang sate dan sate bakarannya.

Kelima. Terwujud kesetiaan. Sering liat sepasang kekasih, biasanya yang lelaki baru saja jemput wanitanya. Lelakinya udah ngantuk sayu masih mau jemput wanitannya. Cih mendayu.

Keenam. The best thing, you can sing sambil teriak-teriak secretly. Kita bisa nyanyi apapun yang kita mau, sekeras apapun, dan jarang orang tau dan peduli! Hahaha.

Tapi beberapa kurang nyamannya, kita harus mengendap-endap di rumah sendiri. Harus waspada tentang sekeliling. Dan ditanya tetangga ‘baru pulang, mas?’

Friday, January 11, 2013

Tawar Saja Sampai Hamil

Sudahkah anda menawar hari ini? hahaha. Indonesia itu negara nawar, apa-apa ditawar, kemampuan negosiasinya diatas rata-rata. Mau beli barang nego, mau berangkat kuliah nego berangkat atau enggak, sikasih tugas langsung nego kumpulinnya paling lambat tanggal berapa jam berapa, bangun tidur nego 5 menit lagi (hei ini harus hahaha).

Seberapa perlunya nego? Kita mulai bernegosiasi itu agar keuntungan yang didapat lebih banyak, rugi lebih sedikit, bagi kita, nggak tau bagi lawan bicaranya. Sebenernya nego itu nggak untung-untung amat juga, ada ruginya. Contoh: menego untuk enak hidupnya, untuk sekarang, nggak tahu besoknya.

Kalau mau masuk kerja dinego bisa? "Organisasi anda aktif tapi kenapa IP-nya pasif?" "lha saya bla bla bla bla". Tapi iya emang bener? Bad man find a reason, good man find the way.

Tapi ada perkecualian, ada yang nggak bisa dinego. Contohnya aja proposal suntingan. Percaya, calon mertuamu nggak mau nego tentang kamu udah kerja atau belum, setirmu lurus atau benkong bunder, gasmu di tangan atau di kaki, kamu punya pedal kopling atau enggak, atau kamu mau sekarang atau enggak? Walaupun terdengar klise, ekonomi juga penting, cinta sih cinta tapi sepiring berdua atau sepiring satu-satu pilih mana? (Pesan mamanya Farah yang satu ini bener-bener mengiang hehehe).

Wednesday, January 9, 2013

Riiliti



Kadang kita harus sadar kalau kita sekarang ada di realita. Bahwa kita belum mengenggam apapun sekarang. Bahwa keberhasilan kemarin adalah ilusi. Bahwa tawaan semalam di warung kopi hanya ilusi. Bahwa realitanya kita sendiri, aku sendiri, kamu sendiri. Sesendirinya kendali lirikan matamu akan pembacaan tulisan ini.

Realitanya yang kamu tanggungjawabi hanyalah dirimu sendiri. Realitanya yang kamu perjuangkan akhirnya hanyalah dirimu sendiri. Dan ketika di padang megah masyar nanti yang dihitung perbuatan kita sendiri.

Perbuatan kita sendiri kepada diri sendiri dan orang lain.

Realita kadang menentang harapan. Berharap itu boleh, tapi jika realita yang diinginkan belum tercapai berarti cara yang dilakukan masih belum pas. Dan berharap akan harapan tanpa realita kekinian untuk bergerak mencari cara terbaik sama saja naif. Pada realitanya masalah diri kita hanya bersumber dari diri kita sendiri, harapan yang kadang terlalu jauh sementara bergerak saja tidak. Expect less.

Semua orang bergumam tentang kepemimpinan orang mereka, memilih iya, membantu tidak. Membantu yang maksimal maksudnya. Mau banget dimengerti orang lain?

Realitanya sholat hanya setiap jumat tapi minta saja segede alphard. Give more.



Pada pengharapannya bekerja harus menurut kesukaan kecintaan pada bidang itu, realitannya hanya sedikit yang berani menantang hari untuk mendapatkannya. Hanya sedikit yang mengambil resiko untuk itu. Penjual pulsa di jalan c simanjuntak ini lumayan nyentrik, motornya 250cc, kalo lagi nunggu konter dia pegangnya laptop. Tv dibelakang itu LCD, siarannya TV kabel. Kata Deni passionnya mungkin jual pulsa.



Realitannya cinta hanya berisikan kepercayaan dan keikhlasan. Mereka berdua selalu berjalan berdua setiap pagi setiap sore bergandengan mereka-reka jalan. Realitanya komitmen adalah indah berakhirnya. Sang istri tidak pernah menyalahkan sang pengemudi jika salah jalan karena mereka sadar bahwa mereka mempunyai kekurangan yang tidak ada gunanya untuk digunjingkan karena jika kekurangan mulai digali maka tidak akan habis. Mereka memilih untuk tetap bersyukur mengasihi apa yang ada, berkasihterimakan tangan yang bisa berjabat menggandeng dengan hangat penuh caya dan ikhlas. Tidak ada yang lebih syahdu. Bersyukurlah.

Mengeluhlah sesuka mulut karena realitanya keluhmu melemahkanmu walaupun akan bahagia barang sesaat. Karena ketika kita masih mengeluh tentang apa yang terjadi, kita belum benar tahu realita apa yang ada dibaliknya.

Mari berpikir, semuanya turun beralasan. Tuhan bersama mereka yang mau berusaha menempuh realita terbaik dalam hidupnya bukan mereka yang keluh kesah galau keraguan. Expect less. Mengertilah orang lain terlebih dahulu. Give more. Tantang harimu. Bersyukur. Berbahagialah.

Thursday, January 3, 2013

Sir Thompson


Hari ini cinta itu kambing hitam. Apa-apa atas nama cinta. Mau ngapain atas nama cinta. Mau membunuh atas nama cinta. Mau demo atas nama cinta. Kadang kalo mentok juga cuma bilang, “kalau udah cinta mau gimana lagi?”

Sudah sejak pertengahan 2012 vespa saya yang biru itu mau bernama. Awalnya terinspirasi dari Jenny-nya Forrest Gump, yang karena bernama Jenny niat cari ikannya masih sama. Cinta lagi. Kalau udah cinta mau gimana lagi? Mulailah cari nama beserta makna blusukannya. Yang kira-kira masuk ketika dipikir kalau nama itu nama teman yang hangat, yang mengerti, peneman siang dan malam. Dari beberapa keluar satu, Caroline. Caroline udah sempat bertetap, tetapi semakin dirasa semakin jenaka. Badan gede cat gelap lampu jumbo bernama wanita, nggak wangun blas.


Vespanya sempat biseksual juga, kalau siang Caroline, kalau malem Bantolo. Kalau siang yangsayangan kemana-mana dianggap kencan, kalau malem brabrobrabro dianggap obrolan tahu bacem teh jahe di angkringan depan sambas. Masih ganjal juga, selain nama malemnya itu mau dikhususkan untuk tahap gandengan yang selanjutnya (matih hahaha), saya nggak rela vespa saya biseks.

Kemudian berbuah nama lagi yang kira-kira berwakil kepada kegedean badan, kemaskulinan catnya, keteguh idealisnya dibalik kesantaiannya jalan, keramahan, dan pengalamannya: Thompson. Kalau dirasa itu namanya itu compact (semacam bodi mobil gitu ya?), padet, dan asli luar negeri. Lebih baik naik vespa, lebih baik mbonceng Sir Thompson. Berkendara dan berbahagialah.

New Year


Happy new year everybody! Jam berapa sampe rumah kemarin? Kalo saya sih tidur dari jam 8 malem dan ikut ganti tahun baru jam 1, bangun gara-gara karaokean di rumah seberang sudah sampe sayonara sampai berjumpa pulang huehehehe. Sebelum menjunjung resolusi yang baru pada tahun ini lucunya emang mengevaluasi pencapaian tahun 2012, dari beberapa yang saya ingat ada beberapa yang tercapai, belum signifikan.

Resolusi saya ditahun ini hanya satu, berhasil menjadi diri sendiri. Tanpa didogma orang lain. Diri sendiri yang bernafas lega. Diri sendiri yang berdiri sendiri. Diri sendiri yang terkalahkan diri sendirinya yang sejati. Diri sendiri yang tetap menjadi dirinya. Dan tentunya diri sendiri yang membebaskan seorang penyendiri yang bersamping rindu.

Dan resolusi ini tidak berjangka 365, 365 hanyalah jumlah hari yang baru untuk diikuti siklusnya. Manusia memiliki siklus, peradaban memiliki siklus, negara memiliki siklus, semuannya memiliki siklus. Dan manusia baiknya membuat siklusnya sendiri, karena hidup, hidupnya juga.

amsyong

Saya semangat menyambut siklus baru ini. Ditembok ruang keluarga saya sudah terpaku kalender cina yang setiap hari satu sobekan huehehehe. Menyadarkan bahwa yang ditiduri semalam itu hanya pengalaman yang berteladan. Yang ditiduri semalam adalah refleksi sehari untuk diperbaharui. Dan menyadarkan bahwa yang kamu ambil dipagi segar ini adalah lembaran bekas yang dibaliknya terluas ruang untuk rencana harapan untuk menggapai resolusimu. Menyadarkan bahwa yang bertatap pagi ini adalah waktu yang akan berteman menyambut sesederhana senyum untuk perbuatan yang kamu harap semalam kepada Tuhan. Berbahagialah.