Wednesday, March 7, 2018

Efek Halo

"Masih inget halo effect?" kami memulai sebuah topik baru. "Masih."

"Aku kasih pertanyaan nih ya, gimana kalau kita suka sama seseorang itu karena kena halo effect aja?"

"Maksudnya?"

"Ya kita suka sama seseorang karena personanya dia. Suka karena konsep kepribadian yang didapatkan dari judgement awal kita tentang orang ini."

"Make sense."

"Kamu tau bagian apa yang terburuk?"

"Apa?"

"Konsep kepribadian itu cuma ada di kepala kita, kita bahkan nggak tau apakah itu bener apa enggak."

"Atau kita yang nggak mau validasi tentang konsep itu bener apa enggak?"

"Dan ketika kita menemukan kalau konsep kita salah, apakah kita mau menerima kalau konsep kita tentang orang ini salah."

"Atau apa?"

"Atau akan ada yang bilang 'kamu berubah'."

"Berubah jadi apa?"

"Power ranger hitam lah, apa lagi?"

"Hahahahaha."

Aa palm kuning datang membawa cangkir kedua, "milo anget pake susu ya tadi."

"Makasih A."

"Terus yang bener itu konsep kepribadian dari sudut pandang yang mana?" Pertanyaan datang kembali.

"Nggak ada, karena konsep kebenaranmu berasal dari kamu, konsep kebenaran orang lain juga berasal dari orang lain, konsep kebenaran yang diyakini netizen juga berasal dari netizen, sedangkan nilai dan frame masing-masing berbeda, akhirnya nilai kebenaran terletak pada orang itu sendiri, bukan pada personalitasnya dan bukan pada pandangan orang atas dirinya."

"Good point."

Kami diam. Satu diantara kami menyeruput milo susu sebelum terlanjur dingin. Mencerna kalimat-kalimat yang barusan kami dengar. Mencoba menata inti-inti dari apa yang kami bicarakan barusan. Mencoba menarik kesimpulan atas dasar nilai dan frame masing-masing. 

"Kamu tau nggak pemain timnas bola sekarang udah ada yang lahir dari tahun 2000an?" Kami berlanjut ke topik selanjutnya.

Monday, March 5, 2018

Swara Kaset

Aku sedang menonton kartun minggu pagi, ketika ibu menurunkan satu kardus kaset yang dia kumpulkan sejak remaja. Ibu mengeluarkan kaset satu per satu dan membersihkannya. Ernie Djohan, Bruri Marantika, Bob Tutupoli, Hetty Koes Endang, dan Titik Sandhora adalah beberapa penyanyi dari kaset yang dia bersihkan. Ibu mengambil kaset Andy Williams, diputar lewat simba mini compo, volume ia putar ke kanan, intro moon river memenuhi ruangan.

Aku tumbuh dengan musik-musik yang diputar ibu lewat mini compo miliknya. Hampir di setiap waktu chill dia memutar kaset-kasetnya. Beberapa terdengar begitu sederhana, beberapa terasa riang gembira, beberapa terasa begitu rumit penciptaannya, dan beberapa masih teringat sampai sekarang. "Mom, kaset di kardus itu masih?" tanyaku ketika di tengah kemacetan. "Masih," jawabnya pendek. "Perlu dirawat dan dimuseumkan deh."

Kebiasaan ibu yang mungkin membuatku cukup penasaran dengan musik, lagu, dan lirik. Mulai dari jazz yang harmonisasinya cukup menarik hingga dangdut yang menurutku bagian dasar dari musik, dangdut yang dibuat tanpa sugar coating, jujur, dan apa adanya. Musik lebih terasa menarik ketika Aan memberi tahuku tentang warna nada, bahwa nada itu bisa divisualisasikan, dalam artian seperti spektrum palet warna yang memiliki rumus kebalikan dan pembagian tiga warna, nada juga bisa diaplikasikan lewat rumus yang sama.

Berawal dari momen dimana aku mencari cara untuk membagi lagu-lagu yang sering aku dengarkan, aku membuat saturday pick, dilengkapi dengan visual yang aku anggap relevan, durasi dua kali lima belas detik, yang terbit tidak tentu waktunya, tergantung baru sering denger lagu apa. Bisa tentang lagu westlife yang sering kakak dengarkan ketika remaja, bisa tentang Ari Reda dan kedalamannya, bisa tentang Iwan Fals dan segala kritiknya, bisa tentang Taeko Ohnuki, bisa tentang Ella Fitzgerald, bisa tentang Harry Roesli, bisa tentang tarian yang kamu lakukan pagi tadi, bisa tentang musik 140 bpm untuk menemani kerja di siang ini, bisa tentang musik yang kamu putar diheadset ketika memandang jalanan saat pulang kerja kemarin kamis, atau bisa tentang musik yang kamu putar saat duduk selonjor sambil membakar dupa dan lampu temaram pukul dua pagi.

"Vinyl itu apa?" tanya ibu ketika mendengar jawaban interview satu penyanyi muda di radio, masih pada kemacetan yang sama. "Piringan hitam," jawabku sambil memperhatikan 10 detik terakhir traffic light. "Oalah, mbah kung punya pemutarnya itu." "Serius? Masih Ada?" aku tidak ingin terjebak dalam harapan kosong. "Di gudang kayanya, Hari Sabtu minggu depan ke Solo, cari aja." Aku tersenyum, lampu hijau baru saja menyala, kutekan pedal gas pelan saat aku menyadari tidak sabar akan datangnya sabtu minggu depan.

Monday, January 1, 2018

Favorite Reality

Nenek adalah orang yang pertama kali ngajarin makan sayur bening pake kerupuk. "Ki kerupuk." "Engg.." "Dicobooo" *ragu-ragu ambil kerupuk *dimakan pakai sayur "Hmm.. (not bad, enak enak aja)" Sejak saat itu kerupuk bukan hanya milik makanan berat goreng atau santan, pakai sayur bening juga enak.

Nyobain sayur bening pake kerupuk adalah momen breakthrough, menyangkal prejudis awal bahwa sayur bening pake kerupuk itu enggak enak. Prejudis itu muncul dari pengalaman-pengalaman sebelumnya yang bilang paduan sayur bening pake kerupuk nggak enak. Makan nggak harus nasi pun juga momen breakthrough, menyangkal nilai yang ditanam kalau belum makan nasi belum makan. Itu adalah tingkat sederhana dari sebuah dogma.

Dogma adalah prinsip atau nilai yang ditetapkan oleh otoritas sebagai salah satu yang tidak terbantahkan. Dogma juga yang mengantarkan kita kepada  fanatisme buta. Mengiring kita untuk menjawab pertanyaan dengan irasional lewat kata-kata pokoknya, harus, dan harga mati. Menuntun kita untuk menutup akses-akses kepada pemikiran dan hal-hal baru. Membuat kita sebagai makhuk yang tidak pernah salah tiada cacat. 

Salah satu sebab kenapa kita mendapatkan dogma adalah tidak mengkritisi apa yang indra kita tangkap sebelum diolah menjadi persepsi. Bentukan persepsi yang terus menerus ditanam itulah yang menumbuhkan dogma. Seolah-olah dogma tersebut adalah sebuah kebenaran, sebuah kepastian. Padahal apa yang kita anggap kepastian sebenarnya bukan kepastian melainkan akumulasi kebiasaan yang kemudian kita gunakan untuk memastikan. Sedangkan hal tersebut tergantung dari jumlah kebiasaan yang kita pelajari dan jumlah variasi persepsi yang kita tangkap. Tapi bukankah apa yang kita tangkap bukan seperti yang terlihat? Yang perlu kita lakukan adalah membuat dialektika, mempertanyakan kembali, dan menolak nyaman. Memang tidak semua hal yang ada di dunia ini dapat dilogikakan, tetapi semua hal bisa dikritisi, selalu ada jawaban atas semua pertanyaan. Never settle is good.

Selain dogma, persepsi kita juga bisa dipengaruhi atas ego. Ego kuat yang mencampuri persepsi bisa berujung pada delusi. Delusi adalah suatu keyakinan yang salah karena bertentangan dengan kenyataan.

Sekolah adalah salah satu media untuk kita melakukan sintesis yang akan membentuk realita. Bukan tempat dan kelasnya, tetapi nilai-nilai sekolah untuk terus belajar, menguji, belajar, dan menguji kembali. Realita juga bisa dipengaruhi oleh nilai moral dan nilai budaya, bisa jadi dua tempat yang berbeda mempunyai kebenarannya masing-masing. Tidak semua realita kita sukai, tidak semua delusi kita benci. Realita cenderung memilih kebenarannya tanpa memandang perasaan penerimanya.

Semurni-murninya sintesis yang kita lakukan, tidak akan berarti jika tidak ada penerapan praktis yang bisa dilakukan. Tidak ada yang tahu apakah kita hidup didalam delusi atau realita. Let's live as we know, mari mengkritisi hal-hal yang ada di dalam hidup kita. Tidak semua harus menjadi masalah, karena tujuannya untuk mengetahui alasan ekstinsasial dari setiap hal. Setiap alasan eksistansial adalah kebaikan, cara manusia menggunakannya lah yang membuatnya tidak baik bagi orang lain.

Bisa jadi terdapat beberapa alasan eksistansial dari satu zat, maka mari kita pilih alasan favorit yang akan kita pilih menjadi realitas favorit, favorit karena berasal dari sintesis kita sendiri, favorit karena kita terlepas dari skala favorable dan unfavorable.


Tuesday, August 22, 2017

Skripsi: The End

Suatu malam di ekologi, tiga hari sebelum ujian skripsi, saya mengajak tiga orang lainnya untuk berusaha mencari kata yang tepat untuk dikatakan pada saat ujian skripsi. Empat puluh lima menit waktu yang diperlukan untuk saya mempertanyakan diri sendiri "saya ini bakat nulis ilmiah nggak sih?"

Psikologi adalah sudut pandang yang saya ambil untuk memandang dunia setelah lulus dari sekolah menengah. Mengambil jurusan di universitas bukan berarti masuk dalam satu ruangan tertutup dari beberapa ruangan yang bernama jurusan dan fakultas, tetapi memilih pintu sudut pandang dari satu ruangan besar bernama kehidupan.

Psikologi memberi saya kesempatan untuk mempelajari manusia dan pertanyaan yang menyertainya, apa, bagaimana, dimana, kapan, mengapa, dan siapa. Skripsi adalah salah satu media untuk mendapatkan jawaban valid dan reliabel atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, dalam hal ini saya ingin mendapatkan jawaban tentang quality of work life dari seorang pekerja yang memilih bekerja sebagai pekerja bebas atau freelancer. 

Menulis ilmiah atau skripsi menuntut seseorang untuk dapat memisahkan delusi dan realita. Saya  kesusahan dalam memisahkan antara keduanya. Sebelum penentuan antara delusi dan realita terjadi, terjadi proses persepsi. Proses pembentukan persepsi berawal dari attention yang manusia berikan atas sesuatu dari enam indera, yang kemudian di encode oleh otak, diolah menurut referensi pribadi, dan jadilah persepsi. Persepsi bagi saya adalah hal yang personal, bahkan sesuatu hal yang disebut objektif adalah subjektif yang disepakati. Maka saya lebih memilih menggunakan kata favorite reality dari pada reality itu sendiri.

Beberapa alternatif kegiatan sudah ditawarkan untuk menyambung kegiatan setelah selesai skripsi, salah satunya S2. Salah satu teman juga memberi komentar di instagram apakah saya akan mengikuti jejak teman saya yang keluar kandang macan dan masuk mulut buaya (re: S2) setelah selesai. Untuk memisahkan delusi dan realita saat menulis skripsi saja membutuhkan waktu, bagaimana dengan S2? Saya bersedia untuk melanjutkan S2, hanya jika dengan S2 saya akan melihat ruang kehidupan menjadi lebih besar dan mulia dari ruang kecil yang saya miliki sekarang, entah saya akan belajar di kelas universitas lagi tentang manusia, asal usul budaya, wujud-wujud persimbolan, atau belajar tentang bahasa. Atau saya akan belajar menghilangkan keakuan di dalam tulisan saya melalui dunia nyata.

Selesai menyusun kata-kata untuk ujian skripsi, pembicaraan berlanjut tentang urgensi pengakuan sosial atas pekerjaan seseorang, berawal dari hasil penelitian saya bahwa freelancer hanya membutuhkan pengakuan dari lingkaran sosial terdekatnya, tidak perlu mendapat pengakuan dari masyarakat instagram atau linkedin. Karena esensi dari bekerja adalah aktualisasi diri dan memastikan orang-orang di sekitar kita bertahan hidup.

Pukul sebelas malam masing-masing dari kami pamit dan saya berterima kasih karena sudah membantu membuat urutan kata-kata untuk ujian skripsi dari orang-orang yang sudah pernah ujian skripsi. Saat memasukkan laptop dan skirpsi dalam tas, lalu saya menyadari, tidak penting apakah skripsi yang saya akan bawa saat ujian ini wujud dari bakat atau tidaknya dalam menulis ilmiah. Karena esensi dari menulis ilmiah ini adalah tentang aktualisasi diri dan memastikan seseorang memiliki favorite reality yang baru.

Selamat bertemu dalam ruang selanjutnya, universitas!

Thursday, January 26, 2017

Unmeasureable Love

Ada beberapa film yang punya after taste kuat setelah selesai menontonnya. A beautiful mind (2001) salah satunya. Film tentang John Nash, profesor matematika yang menderita skizophernia. Skizophrenia adalah salah satu psychology abnormality yang penderitanya akan mengalami delusi dari inderanya, umunya berwujud suara atau visual. Di dalam film ini Ron Howard bisa menggambarkan secara nyata abnormalitas ini. Beberapa scene dibuat untuk audience merasa empati dengan John Nash, empati terhadap abnormalitas, dan empati karena audience merasa mengalami skizophrenia.

Beberapa dari kamu mungkin juga akan merasa mengalami apa yang dialami John Nash, mendengar bisikan untuk membunuh seseorang, what if your inner voice is this whisper?

Beberapa dari kamu mungkin juga akan merasa mengalami apa yang dialami John Nash, merasa diikuti seseorang kapanpun dimanapun, what if people you meet everyday is not real?

Beberapa dari kamu mungkin juga akan merasa mengalami apa yang dialami John Nash, berinteraksi dengan seseorang, yang orang lain nggak bisa melihat wujud visualnya, what if nobody can't see the last person you talk with?

This is getting dark.

Empati emang salah satu hal yang membuat manusia menjadi manusia. Ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Secara tidak langsung mendengarkan dan sependapat dengan keadaan yang dialami oleh orang lain. Menjadi satu sepemikiran dan seperasaan dengan orang lain.

Memang psikologi pada intinya adalah tentang bagaimana mengerti manusia. Field of study nya memang manusia, secara logis, semua variabel yang diajarkan memang berobjek manusia.

Happiness, or in psychology called subjective well being, is measureable.

Stress, depression; measureable, even there is stage of it.

Job satisfaction, organizational justice; measureable, even there is indicator that indicate how fair the organisation is.

But the thing called love, unmeasureable, there is theory of it, but very little amount, just one or two. Maybe even you can't put this on your skripsi because it's not enough theory. Maybe there is a lot of bias in variable called love. Maybe logic can't figure it out, maybe scale can't measure it out, but maybe "rasa & karsa" can figure it out, something that we can't tell but we can feel. Like something in deepest of our heart. Like some butterfly in your tummy. Like every struggle that we put to hold every tears.