Sunday, February 23, 2014

To Be Nothing & To Beat No One

Pernah mengeluh tentang kepalsuan dunia? Ya semua pernah, ada yang berusaha deal with it, ada yang tetap mengeluhkan.

Dari beberapa yang memilih tetap mengeluhkan mungkin adalah mereka yang tetap berpegang teguh pada keyakinan dan prinsip-prinsip mereka. Banyak yang bilang mereka naif dan kolot. Kejujuran, keaslian, otentik, atau apalah itu. Walaupun nggak ada yang bener-bener asli di dunia ini.

Dari hal-hal yang palsu itu memang dituntut oleh kekinian. Yang kata orang-orang itu mengurangi ke-mindful-an hidup kita dan pada akhirnya, happiness decreases.

Happiness, happiness, happiness. Banyak yang membahas tentang happiness diliat dari psikologi positif, spiritual, gabungan keduanya, atau bahkan logika-logika sederhana seperti nyoto di pagi hari bareng temen-temen itu bahagia.

The highest level of happiness is let it go. Bukan bagian dari "udah ah ngalir aja, ntar dapet aja manut, ngapain manut, sedapetnya aja men, ngoyo amat" bukan sepenuhnya disitu, let it go nya itu berasal dari nggak memaksakan terlalu jauh, emang sukses-sukses itu perlu push the limit juga, tapi disini berusaha realistis, naive yet smart, live here and now. And let it go comes from sincerity. Ikhlas. Opo onone. The ability to hope nothing.

Ikhlas juga berkaitan erat sama kemurnian, purity. Kemurnian niat karena hal yang nggak bisa kita liat, karena hal yang kita perjuangkan juga hal yang belum bisa kita lihat. Dan Tuhan menilai dari kemurniannya, bukan dari grundelannya. You have to be nothing. Udu sopo-sopo.

Karma. It's because of you. Apa yang kamu lempar akan balik juga ke kamu. When you beat someone, someone will beat you back. Pernah tau kalau ternyata brand mobil Rolls Royce sama Bentley ternyata nggak pernah bikin iklan? Tapi mereka tetep survive dan dikenal. Bentley masih masuk digame balap juga mobilnya. Pemenang itu diliat dari nilai-nilai yang ada di dalamnya. Bukan apa yang dilakukan untuk menaklukan orang lain.  Kalo menang ya menang aja.

Good luck to catch the butterfly. Ohm.

What Comes Around Goes Around

Jadi ada beberapa hal di dunia yang dapat dirubah dan tidak dapat dirubah.

Yang dapat dirubah adalah takdir. Pernah denger kan ada yang bilang "Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak memperjuangkannya?" ya bunyinya kira-kira seperti itu.

Yang tidak dapat dirubah adalah what brings you here and now. Masa lalu, darah, kamu anak siapa, lahir dimana. Itu bagian mutlak. And the point is gimana dari masa lalu itu kamu bisa jadi yang terbaik bukan karena apa yang kamu cari, tapi mulai bersyukur dari apa yang dipunya.

Somehow pernah mikir "Tuhan akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak memperjuangkannya?" adalah bagian dari hidup yang nggak dapat dirubah, karena dari takdir tersebut kita ditakdirkan untuk berhasil berubah. Tergantung dari keyakinan diri kita masing-masing. What comes around goes around.

Paradox, you choose.


Thursday, January 16, 2014

Melarikan Diri: Goa Cemara

Melarikan diri adalah pergi. Dari UAS dan kertas. Melarikan diri ke pasir, cemara, angin, dan laut.












Meisza Adilla Herssy. Temen sekelas. Banjarmasin. Suka bawain amplang. Waton pancal. Suka difoto. Jangan salah paham.

Goa cemara ini rekomendasi tepat buat meditasi. Teduh, tenang, seger, apalagi sambil mandi es kelapa muda. Sekian, nikmati fotonya.

Wednesday, October 2, 2013

Too Good To Be True

Aku udah membuat kesimpulan dari beberapa orang, entah lewat dengerin ceritanya, ngobrol langsung tentang ini, atau dari kisah-kisah nggak langsung lainnya. Intinya semua orang punya their too good to be true. Cewek cowok semua punya.

Kebanyakan too good to be true-nya mereka itu cita-citanya, yang biasanya udah terangkum paket manis bertahap, dan kalau dijalani bakal serasa besok mati aja udah ikhlas asal ada too good to be true-nya disampingnya. Yang serasa tawa anak kecil di jok belakang mereka udah pasti mereka dapetin. Yang serasa kopi pagi yang di meja pasti pas rasanya. Yang serasa setiap siang ada karya yang siap dikeluarkan. Yang serasa setiap sore mereka selalu naik vespa keliling jogja dan akhirnya makan nasi goreng di tengah kota berdua. Mungkin ini adalah sisi idealis masa muda.

Semacam mereka terbunuh oleh harapan mereka sendiri (dan ada yang trauma), karena kebanyakan too good to be true-nya adalah mantan. Tapi temen samping kelas, too good to be true-nya adalah gebetannya, yang udah jalan kemana, lendotan kapan aja, kenal sama siapanya, tapi akhirnya tiba-tiba lost contact juga dan hilang. Pada akhirnya dia wisuda, diucapin. Yaudah. Selesai. Nothing special.

Ada juga yang mantannya dari SMA, yang tumbuh bareng, evaluasi bareng, berkembang berencana bercita-cita bareng. Tapi akhirnya putus juga, dan belum bisa move on sepenuhnya sampe sekarang. Yang kalo sekarang ketemu masih speechless. Yang kalo ketemu  masih gemeteran. Yang kalo ketemu masih aduh-aku-harus-ngapain. Yang kalo kata Mamanya Ardhi, “masih bergetar nggak kalo denger namanya?”

Masih di mantan jaman SMA, ada yang putus gara-gara hal yang sangat sepele dan sampe sekarang dia masih menyesal melakukan hal itu. Kejadiannya ya masih sama. Masih bergetar, masih kepoin sana sini, masih curhat ke sahabat mantannya nanyain gimana dia sekarang. Dan walaupun udah punya pacar (tapi insekyur), dia masih glundang-glundung nunggu sms-nya doi.Bahkan dia bersedia merubah kebiasaannya dia demi balikan, yang nggak pacaran, tapi cukup komitmen.

Yang ini cinta di masa kuliah, putus sama mantannya karena cinta beda agama. Padahal langkah mereka tinggal ngasih proposal ke orang tua. Dan sampe sekarang kalo mereka ketemu di acara reunian masih suka bahagia berdua dan sifat-sifat mudanya keluar.

Dan ada juga yangmerasa udah punya kisah paling indah. Dari cara ketemu sampe cara jadian. Yang kemana-mana bareng. Yang suka membagi kebahagiaan mereka dengan kartu ucapan selamat ultah dengan foto mereka berdua. Yang nungguin pasangannya dateng untuk mulai makan di acara ulang tahun sahabat mereka, walaupun itu rame dan yang lain udah mau selesai. Yang setiap minggu mereka gembira rencanain mau jalan kemana. Yang mereka udah sangat cocok, yang satu udah menemukan figurnya dan yang satu udah senyamannya pasangan. Yang mereka udah jadi moodbooster satu sama lain. Yang good-morningnya selalu bright-up harinya. Yang akhirnya sayang satu sama lain mereka berlebih, sayang mereka udah nggak membebaskan, mulai risih dengan perhatian posesifnya. Akhirnya putus dan janji-janji mereka jadi janji pengecut satu per satu. Yang satu diantara mereka udah nggak percaya lagi satu sama lain. Yang ini too good to be true-nya saya.


Di dunia ini nggak ada too good to be true sebenernya, karena kita yang bikin sendiri too good-nya. Too good is just matter of perspective. Di dalem diri aja udah bilang too good apalagi di luar? Karena semua orang mencari orang yang perfect bagi dia, yang bisa menerima apa adanya tapi juga punya visi, yang bersabar dalam situasi apapun tapi punya opini untuk nyanggah satu sama lain, atau apalah idealmu. Tapi sebenernya kita hanya perlu orang yang benar menjadi dirinya sendiri di depan kita, dan kita menjadi diri kita sendiri di depan dia. You don’t need perfect person, you need honest person.

Monday, August 12, 2013

Dear Prudence: A Dedicated Post

Tepat seminggu meninggalnya kakakku yang kedua. Sebut saja Ama (nggak usah tanya juga kenapa).Ikhlas sih udah, tapi cuma mau berbagi berbagai hal tentang dia aja sih. Tanpa berniat membawa duka ke blog ini.

Iya, Senin 5 Agustus dia meninggal. Karena kecelakaan hari Sabtu tanggal 3 Agustus, tepat di hari ulang tahunnya. Yang pas sahur masih bercanda-bercandaan, habis subuhnya udah ditelfon sardjito kalo Ama kecelakaan dan masih belum sadar.

Dia total 2 malem kritis, udah banyak doa yang ditujukan buat dia. Udah banyak buah yang disiapin buat pemulihan keadaannya dia. Udah banyak cerita yang mau dibagi buat dia. Ya mau apa lagi?

Ceritanya, Ama ini mau nganter barang yang mau dibawa berangkat temennya ke Riau flight jam 7 pagi, makanya habis subuh udah berangkat. Semalemnya dia nganter temennya yang Riau ini muter-muter cari segala macam barang buat dibawa mudik, dan ada yang ketinggalan di rumah, dan dianter ke kost. Loyal.

Ama juga punya pacar. Ama ini pacar pertamanya. Mereka udah sekitar 6 bulan bareng, sejak KKN di Cilacap (iya cerita cinta mahasiswa banget, ketemu di KKN hahaha). Hubungan mereka sederhana, saling menjaga, tidak berlebihan, ala kadarnya, pas. Udah dua kali setelah meninggalnya Ama, sang pacar nginep rumah. Yang pertama aku sama dia ngobrol semua yang mereka alamin, ketemu, ndeketin, ah semuanya. Nginep yang kedua kemarin, topik masih sama. Ya emang berat, apalagi Ama udah diplanning bakal jadi yang terakhir. Satu hal yang disesalkan sang pacar, pada hari-hari terakhirnya, dia terlalu sibuk sama kerjaannya, jadi Ama ngerasa dicuekin dan (ya taulah) sms berkali-kali gitu. Baru kemarin malem sang pacar ngomong ke aku “makanya dek, kalo ada orang yang sayang harus disambut, jangan dicuekin, sakit,” dan … nusuk.

Hari besok nggak ada lagi yang bukain pintu malem-malem. Nggak ada yang tidur di kursi tengah buat nunggu adeknya pulang malem (walaupun udah tak suruh tidur). Nggak ada lagi yang baru pulang masuk rumah udah ada yang teriak-teriak nyapa. Nggak ada lagi yang baru suntuk nugas di kamar terus ada yang masuk tanya kabar. Udah nggak ada pacar-pacaran lagi (aku sama Ama dikira pacaran kalo pergi berdua). Udah nggak ada pundak sandaran tidur.Udah nggak ada yang toel-toel lagi. Udah nggak ada yang tak bikin latah. Udah nggak ada yang nonton film bareng sampe ngakak. Udah nggak ada puding coklat dingin disabtu siang. Udah nggak ada temen ngaji bareng. Udah nggak ada temen curhat. Udah nggak ada lagi Ama.
Salut sama temen-temennya Ama, yang nungguin tiap malem tidur shift-shiftan bareng sekeluarga buat nungguin, bisikin cerita disamping dipannya Ama. Salut yang nyariin orang buat donor darah, sampe antri dan sampe ditolak-tolak PMI karena stoknya masih cukup. Salut sama temen-temennya yang ikut Yasin diakhir waktunya.

Yang bikin merinding juga keluarga besar yang dateng gitu aja begitu denger kabar Ama kecelakaan. Setidaknya segera ada temen berdoa buat Ama. Yang sampe diusir-usir satpam ruang IMC. Ama, kamu nggak tau berapa banyak orang yang jenguk kamu, berdoa buat kamu supaya cepet sembuh balik seperti semula.

Serumah masih suka tiba-tiba ngrasa ada yang kurang di ruang tengah. “Ini rasanya kaya Ama baru pergi,” kata Ibuk. Masih suka berharap tiba-tiba ada motor dateng buka pintu masuk rumah terus nyapa Assalamualaikum terus Ama ikut gabung di ruang tengah.

Ah sudahlah. Udah seminggu juga. Setidaknya dia meninggal karena memperjuangkan sesuatu. Ada yang bilang yang baik itu cepet dipanggil. Ada yang bilang juga kalo Ama kelamaan di dunia jadi nggak bersih lagi. Ada yang bilang mati muda itu jalan terbaik. Ada yang bilang juga dia terlalu disayang Tuhan. Mau dikata apa semoga rencana Tuhan lebih indah.