Showing posts with label Donya. Show all posts
Showing posts with label Donya. Show all posts

Wednesday, March 7, 2018

Efek Halo

"Masih inget halo effect?" kami memulai sebuah topik baru. "Masih."

"Aku kasih pertanyaan nih ya, gimana kalau kita suka sama seseorang itu karena kena halo effect aja?"

"Maksudnya?"

"Ya kita suka sama seseorang karena personanya dia. Suka karena konsep kepribadian yang didapatkan dari judgement awal kita tentang orang ini."

"Make sense."

"Kamu tau bagian apa yang terburuk?"

"Apa?"

"Konsep kepribadian itu cuma ada di kepala kita, kita bahkan nggak tau apakah itu bener apa enggak."

"Atau kita yang nggak mau validasi tentang konsep itu bener apa enggak?"

"Dan ketika kita menemukan kalau konsep kita salah, apakah kita mau menerima kalau konsep kita tentang orang ini salah."

"Atau apa?"

"Atau akan ada yang bilang 'kamu berubah'."

"Berubah jadi apa?"

"Power ranger hitam lah, apa lagi?"

"Hahahahaha."

Aa palm kuning datang membawa cangkir kedua, "milo anget pake susu ya tadi."

"Makasih A."

"Terus yang bener itu konsep kepribadian dari sudut pandang yang mana?" Pertanyaan datang kembali.

"Nggak ada, karena konsep kebenaranmu berasal dari kamu, konsep kebenaran orang lain juga berasal dari orang lain, konsep kebenaran yang diyakini netizen juga berasal dari netizen, sedangkan nilai dan frame masing-masing berbeda, akhirnya nilai kebenaran terletak pada orang itu sendiri, bukan pada personalitasnya dan bukan pada pandangan orang atas dirinya."

"Good point."

Kami diam. Satu diantara kami menyeruput milo susu sebelum terlanjur dingin. Mencerna kalimat-kalimat yang barusan kami dengar. Mencoba menata inti-inti dari apa yang kami bicarakan barusan. Mencoba menarik kesimpulan atas dasar nilai dan frame masing-masing. 

"Kamu tau nggak pemain timnas bola sekarang udah ada yang lahir dari tahun 2000an?" Kami berlanjut ke topik selanjutnya.

Monday, March 5, 2018

Swara Kaset

Aku sedang menonton kartun minggu pagi, ketika ibu menurunkan satu kardus kaset yang dia kumpulkan sejak remaja. Ibu mengeluarkan kaset satu per satu dan membersihkannya. Ernie Djohan, Bruri Marantika, Bob Tutupoli, Hetty Koes Endang, dan Titik Sandhora adalah beberapa penyanyi dari kaset yang dia bersihkan. Ibu mengambil kaset Andy Williams, diputar lewat simba mini compo, volume ia putar ke kanan, intro moon river memenuhi ruangan.

Aku tumbuh dengan musik-musik yang diputar ibu lewat mini compo miliknya. Hampir di setiap waktu chill dia memutar kaset-kasetnya. Beberapa terdengar begitu sederhana, beberapa terasa riang gembira, beberapa terasa begitu rumit penciptaannya, dan beberapa masih teringat sampai sekarang. "Mom, kaset di kardus itu masih?" tanyaku ketika di tengah kemacetan. "Masih," jawabnya pendek. "Perlu dirawat dan dimuseumkan deh."

Kebiasaan ibu yang mungkin membuatku cukup penasaran dengan musik, lagu, dan lirik. Mulai dari jazz yang harmonisasinya cukup menarik hingga dangdut yang menurutku bagian dasar dari musik, dangdut yang dibuat tanpa sugar coating, jujur, dan apa adanya. Musik lebih terasa menarik ketika Aan memberi tahuku tentang warna nada, bahwa nada itu bisa divisualisasikan, dalam artian seperti spektrum palet warna yang memiliki rumus kebalikan dan pembagian tiga warna, nada juga bisa diaplikasikan lewat rumus yang sama.

Berawal dari momen dimana aku mencari cara untuk membagi lagu-lagu yang sering aku dengarkan, aku membuat saturday pick, dilengkapi dengan visual yang aku anggap relevan, durasi dua kali lima belas detik, yang terbit tidak tentu waktunya, tergantung baru sering denger lagu apa. Bisa tentang lagu westlife yang sering kakak dengarkan ketika remaja, bisa tentang Ari Reda dan kedalamannya, bisa tentang Iwan Fals dan segala kritiknya, bisa tentang Taeko Ohnuki, bisa tentang Ella Fitzgerald, bisa tentang Harry Roesli, bisa tentang tarian yang kamu lakukan pagi tadi, bisa tentang musik 140 bpm untuk menemani kerja di siang ini, bisa tentang musik yang kamu putar diheadset ketika memandang jalanan saat pulang kerja kemarin kamis, atau bisa tentang musik yang kamu putar saat duduk selonjor sambil membakar dupa dan lampu temaram pukul dua pagi.

"Vinyl itu apa?" tanya ibu ketika mendengar jawaban interview satu penyanyi muda di radio, masih pada kemacetan yang sama. "Piringan hitam," jawabku sambil memperhatikan 10 detik terakhir traffic light. "Oalah, mbah kung punya pemutarnya itu." "Serius? Masih Ada?" aku tidak ingin terjebak dalam harapan kosong. "Di gudang kayanya, Hari Sabtu minggu depan ke Solo, cari aja." Aku tersenyum, lampu hijau baru saja menyala, kutekan pedal gas pelan saat aku menyadari tidak sabar akan datangnya sabtu minggu depan.

Monday, January 1, 2018

Favorite Reality

Nenek adalah orang yang pertama kali ngajarin makan sayur bening pake kerupuk. "Ki kerupuk." "Engg.." "Dicobooo" *ragu-ragu ambil kerupuk *dimakan pakai sayur "Hmm.. (not bad, enak enak aja)" Sejak saat itu kerupuk bukan hanya milik makanan berat goreng atau santan, pakai sayur bening juga enak.

Nyobain sayur bening pake kerupuk adalah momen breakthrough, menyangkal prejudis awal bahwa sayur bening pake kerupuk itu enggak enak. Prejudis itu muncul dari pengalaman-pengalaman sebelumnya yang bilang paduan sayur bening pake kerupuk nggak enak. Makan nggak harus nasi pun juga momen breakthrough, menyangkal nilai yang ditanam kalau belum makan nasi belum makan. Itu adalah tingkat sederhana dari sebuah dogma.

Dogma adalah prinsip atau nilai yang ditetapkan oleh otoritas sebagai salah satu yang tidak terbantahkan. Dogma juga yang mengantarkan kita kepada  fanatisme buta. Mengiring kita untuk menjawab pertanyaan dengan irasional lewat kata-kata pokoknya, harus, dan harga mati. Menuntun kita untuk menutup akses-akses kepada pemikiran dan hal-hal baru. Membuat kita sebagai makhuk yang tidak pernah salah tiada cacat. 

Salah satu sebab kenapa kita mendapatkan dogma adalah tidak mengkritisi apa yang indra kita tangkap sebelum diolah menjadi persepsi. Bentukan persepsi yang terus menerus ditanam itulah yang menumbuhkan dogma. Seolah-olah dogma tersebut adalah sebuah kebenaran, sebuah kepastian. Padahal apa yang kita anggap kepastian sebenarnya bukan kepastian melainkan akumulasi kebiasaan yang kemudian kita gunakan untuk memastikan. Sedangkan hal tersebut tergantung dari jumlah kebiasaan yang kita pelajari dan jumlah variasi persepsi yang kita tangkap. Tapi bukankah apa yang kita tangkap bukan seperti yang terlihat? Yang perlu kita lakukan adalah membuat dialektika, mempertanyakan kembali, dan menolak nyaman. Memang tidak semua hal yang ada di dunia ini dapat dilogikakan, tetapi semua hal bisa dikritisi, selalu ada jawaban atas semua pertanyaan. Never settle is good.

Selain dogma, persepsi kita juga bisa dipengaruhi atas ego. Ego kuat yang mencampuri persepsi bisa berujung pada delusi. Delusi adalah suatu keyakinan yang salah karena bertentangan dengan kenyataan.

Sekolah adalah salah satu media untuk kita melakukan sintesis yang akan membentuk realita. Bukan tempat dan kelasnya, tetapi nilai-nilai sekolah untuk terus belajar, menguji, belajar, dan menguji kembali. Realita juga bisa dipengaruhi oleh nilai moral dan nilai budaya, bisa jadi dua tempat yang berbeda mempunyai kebenarannya masing-masing. Tidak semua realita kita sukai, tidak semua delusi kita benci. Realita cenderung memilih kebenarannya tanpa memandang perasaan penerimanya.

Semurni-murninya sintesis yang kita lakukan, tidak akan berarti jika tidak ada penerapan praktis yang bisa dilakukan. Tidak ada yang tahu apakah kita hidup didalam delusi atau realita. Let's live as we know, mari mengkritisi hal-hal yang ada di dalam hidup kita. Tidak semua harus menjadi masalah, karena tujuannya untuk mengetahui alasan ekstinsasial dari setiap hal. Setiap alasan eksistansial adalah kebaikan, cara manusia menggunakannya lah yang membuatnya tidak baik bagi orang lain.

Bisa jadi terdapat beberapa alasan eksistansial dari satu zat, maka mari kita pilih alasan favorit yang akan kita pilih menjadi realitas favorit, favorit karena berasal dari sintesis kita sendiri, favorit karena kita terlepas dari skala favorable dan unfavorable.


Wednesday, June 29, 2016

0.00917

Bulan puasa punya nuansa magis setiap tahunnya. Cuma di bulan puasa setiap sore keluarga bisa kumpul makan bareng, yang dihari biasa cuma terjadi saat special event. Cuma dibulan puasa bisa kompak nonton bola bareng-bareng. Terlebih bulan puasa tahun 2016 bertepatan dengan Copa America dan EURO Cup. Jam 20.00 bola, jam 23.00 bola, jam 02.00 bola, jam 06.00 bola, jam 08.00 bola. Marhaban ya bal balan.

Bulan puasa tanpa disadari bikin time management lebih teratur karena setiap orang punya fixed agenda setiap adzan maghrib dan waktu subuh. Waktu meeting menjadi lebih teratur, jadwal kerjain ini itu lebih teratur, jadwal tidur lebih teratur, dan jadwal nonton lebih teratur. *lho

Ada satu momen di bulan puasa yang selalu datang setiap tahunnya, dimana bulan puasa menyediakan contemplative time. Ada momen dimana kita dipaksa sendiri, melakukan self talk, dan merenung. Saat menunggu iqomah sholat subuh, saat dengerin khotbah Jumat yang kalau dibulan puasa jadi lebih khusyuk, dan saat  macet di jalan menuju tempat bukber.

Bulan puasa 2016 bertepatan dengan resign-nya beberapa teman di kantor. Ada yang berniat untuk kembali ke asalnya kembali ke keluarganya, ada yang berniat untuk kembali ke kotanya untuk mengembangkan usaha sampingan, dan ada yang berniat untuk menerima, menerima jawaban bahwa rejeki tidak pernah tertukar.

Berada di kantor yang isinya anak muda semua, yang paling tua 30an tahun, membuat ego dan emosi yang pendek. Keempat orang yang resign pada bulan puasa ini sudah membulatkan niat, berusaha menyingkirkan ego dan memanjangkan emosi. Dianggap level berikutnya dari bekerja di sini. Sayangnya kenaikan level tersebut yang mereka resign.

Beberapa dari kita bangun setiap pagi untuk memenuhi ambisi diri. Bangun setiap pagi untuk memberi makan ego pribadi. Bangun setiap pagi untuk menyumpah serapah untuk mendapat pembenaran hakiki.

0.00917 adalah perbandingan besar bumi terhadap matahari. Matahari lebih besar dari bumi 109 kalinya. Kita berada di tempat bernama bumi itu dengan ambisi dan ego diri pribadi.

Bukan ini bukan bahan ceramah sholat Jumat. Tetapi humanity tanpa hitung untung dan rugi yang perlu diberi, agar kodrat diri sendiri tidak hilang ditelan bumi.

Monday, January 18, 2016

&

Satu lagi bukti bahwa uts dan uas merupakan salah satu keadaan yang bikin produktif ngeblog. Beberapa kali rehat ngeblog, nggurus ini itu, ngobrol ini itu, pengen ngepost eh ketiduran, ada bahan eh nuanginnya ga nyampe. Tapi kalau masuk masa uts uas gini, pasti jadi deh semua. Contohnya post ini. Mungkin karena kalau ujian pasti ada masa dimana kita mengevaluasi refleksi 14 pertemuan aku ngapain aja, mengevaluasi refleksi 14 pertemuan aku nyatet apa, mengevaluasi refleksi kenapa penyesalan harus dateng belakangan...

Penyesalan kenapa jatah 3 kali absen ga selalu digunain semua. Hahaha.

Atau mungkin uts uas adalah waktu dimana kita ngerasa kita adalah orang yang bertanggung jawab sama diri sendiri. Nggak ada yang bisa digantungkan selain diri sendiri. Nggak ada yang bisa bantu selain diri sendiri.

Nggak maksud disini untuk menghilangkan peran manusia sebagai makhluk sosial, tapi intinya i can't help you, you can help you. Selalu ada komitmen dan semangat untuk explore pada diri sendiri untuk mendapatkan hasil yang diharapkan dari setiap orang.



Atau mungkin uts uas adalah tempat dimana kamu bisa ketemu dan ngobrol lama dengan temen-temenmu. Bisa cerita-cerita tentang topik sekitar besok mau ngapain. Bisa inget-inget tentang coret-coretan curhatan yang distikerin di kursi barisan depanmu pas kuliah. Bisa sadar kalau waktumu nggak banyak lagi bersama mereka.

Untuk teman-teman yang sudah pernah bertukar pikiran, berkolaborasi, akan bertukar pikiran, dan akan berkolaborasi. Kalian awsum.

Berbahagialah. *sambil dengerin one out of two


Sunday, December 20, 2015

Butterflies In My Tummy

Weekend malem gini biasanya dihabisin nonton bola di tv bareng bapak. Dari SD sampe sekarang ga pernah berubah. Dari jaman One Stop Football sampe liatin replay goal dari instagram. Dari jaman jersey masih kombor sampai yang ketat sampai mau kombor lagi. Pernah dari luar kota di cepet-cepetin buat pulang karena ada bola dan ga boleh dilewatin, kekejar. Man's power.

Tapi hari ini acara nobar nggak ada, bola nya ga begitu bagus. Juventus lawan Carpi sama Roma lawan Genoa, bukan barcelona atau liverpool yang jadi kesukaan. Selain itu juga seharian di jalan jogja-magelang-kopeng, jadi emang capek. Akhir-akhir ini emang baru seneng-senengnya pergi bareng sekeluarga sekalipun itu cuma beli donat atau terang bulan, dan hari ini salah satunya.

Keluarga emang lingkungan pertama dan akhir kita, perlu banget dimana merawat keluarga, menengok keluarga, spent time bareng keluarga, karena kalau kamu ada apa-apa yang bakal hadir adalah keluargamu, bukan layar dan keyboard yang nemenin lembur. Katanya. *nohok *kalian baik kok layar dan keyboard *kalian berjasa

The best thing about life is, kamu juga bakal dapet tambahan keluarga suatu saat nanti. The second best thing about life is, kamu boleh memilihnya sendiri. Jadi siapa pilihanmu?

Memilih memang hak mu, tapi hak sepenuhnya tetep ada di Tuhan. Berencana boleh, tapi jangan lupa juga minta yang terbaik. Itu sih hubungan sama yang di atas yah, tapi ya siapa juga yang bisa memastikan besok. Yang perlu dilakukan emang hari ini, di sini, dengan cara saling memberi alasan kenapa kamu harus memilih dia, mungkin?

The third best thing about life is, ketika dua orang sudah saling memberikan alasan kenapa keduanya harus saling memilih setiap harinya, bigger life happens. And butterflies will stay warm in your tummy.

Tuesday, December 1, 2015

A Plate of Dinner

Kampusku adalah salah satu kampus yang ada kuliah jam malamnya. Bahkan katanya sempet ada mahasiswa protes-protes karena kenapa ada kuliah malam udah bayar dan sebagainya apalagi parkiran udah nggak cukup. Kalo aku sih masuk yang santai aja mah yang penting lulus.

Akhir-akhir ini suka waktu cepet banget. Setelah dirasa-rasa kayanya waktu banyak terforsir. Udah jam istirahat tapi masih suka mikir ini itu, udah jam selonjoran nonton bola tapi masih suka inget ini itu. Ketika ngerasa 24 jam itu kurang, pasti ada yang salah nih.

Waktu di semester 7 ini emang udah acak. Jarang banget sekelas sama temen-temen dulu yang kemana-mana bareng berbanyak. Sekarang paling cuma 3-6 orang aja. Bahasannya juga udah tua, KKN, Kuliah Kerja Nikah. Suka inget dulu setiap kuliah nunggu-nunggu buat kumpul dan bandingin hasil tes kepribadian. Suka inget dulu setiap habis ujian nunggu-nunggu sampe keluar semua baru pulang. Suka inget dulu setiap semua udah keluar dari ujian nongkrong lama sambil ngobrol ini itu. Suka inget, ternyata udah mau lulus.

Angkatan di kuliah ini emang beda, dimana tahun angkatan dihitung berdasarkan masuknya, bukan keluar. Keluar SMA angkatan 2012, masuk kuliah angkatan 2012. Salah satu angkatan yang lolos dari kiamat bulan desember, katanya. Dan kelas malem ini, angakatan 2012 cuma 6 orang. Tiga diantaranya aku, Echa, dan Cesa.

Jarang-jarang nih bahas orang diblog.

Karena udah laper bagnet, pulang kuliah malem, aku, Echa, dan Cesa langsung makan nasi goreng sapi di kota baru. Salah satu kenikmatan hujan-hujan dingin makan nasi goreng sapi dan teh anget, bertiga. Obrolannya ringan, receh, remeh. Tapi kami coba kembali mengingat kenapa kami semua ada di sini. Kenapa dia masuk kampus ini, kenapa dia milih ini, kenapa dia milih jogja, kenapa dia nggak teguh sama impiannya tentang idealis yang bener teguh?

Semua hal yang di dunia ini emang turun karena ada maksud. Kenapa dia masuk kampus ini, kenapa dia milih ini, kenapa dia milih jogja, kenapa dia nggak teguh sama impiannya tentang idealis yang bener teguh semua ada jawabannya. Kami nggak tau apa itu dan alasan atau logika dibaliknya. Tapi satu yang kami tau, kalau dia nggak melakukan pilihan ini dulu, kami nggak akan ketemu.

Banyak. Banyak pengalaman pelajaran yang berusaha aku inget lagi di jalan sepulang makan malam. Dari mulai taruhan berani maju di kelas, setiap baris depan yang dihindari, setiap jalan yang dilewati, setiap hujan yang menari, dan setiap senyum yang berganti.

Nggak ada yang lain yang bisa diucapin selain terima kasih. Menjadi pendamping di saat membentuk karakter emang nggak akan terganti. Nggak cuma mereka berdua, banyak orang yang berarti di 4 tahun ini. Untuk semua yang di angkatan 2012, walaupun keluarnya ada yang cepet ada yang entaran, setidaknya satu tahap hidupmu akan terselesaikan. Berbahagialah. Bersyukurlah.

Sekali lagi, terima kasih.

Friday, September 25, 2015

Sweet Talk

Akhir-akhir ini suka banget naik motor jauh (baca: pulang kkn) pake headset sambil dengerin Danilla satu album. Over and over again, nganti tuo. Tapi serius emang paling enak kalo sore-sore diem dengerin musik sambil drive to the sunset.

Beberapa kegiatan akhir-akhir emang suka gesek jadwalnya, dimana prioritas dikontraskan dan ketelitian ditajamkan. Ini salah satu marathon kegiatan yang bareng-bareng terpanjang di masa kuliah, and the good news is tinggal seminggu lagi. Kata Mas Danur kakak angkatan kampus, hidup kaya marathon, jaraknya jauh, mau kenceng tapi cepet cape atau santay tapi pasti nyampe.

Meskipun milih santay tapi pasti nyampe pun ujungnya juga cape. Dan cape bisa bikin overwhelmed yang berujung marah-marah dan melankolis. But it's all normal. Ga ada yang
salah, karena setiap orang punya marah dan sisi melakolisnya, dan hak mereka untuk menggunakannya.

Tapi ketika kamu butuh an extra energy on this marathon, talk you your lovers will be great. Make a warm talk, have a sweet day, and butterflies in you tummy.

Berbahagialah.

Friday, April 24, 2015

Emang Suka Lupa

Ada satu hal yang sangat berbahaya di dunia, ketika kamu berlari begitu kencang, kamu akan tumpul. Maksudnya kaya kamu terlalu belajar, tumpul. Kamu terlalu kerja, tumpul. Kamu terlalu bobok juga pun, tumpul.

Ada salah satu penyebab kenapa kita berlari begitu kencang, karena kita tidak pernah yakin sepenuhnya dengan apa yang kita perbuat. Itulah juga yang membuat joko anwar besar hingga sekarang, dia pernah cerita bahwa karya film pertamanya yang mendapatkan penghargaan adalah hasil proses yang tidak sempurna. Filmnya hanya terambil ¾ karena keterbatasan biaya, pada saat editing juga ternyata file yang diambil rusak dan gambarnya cacat. Setelah itu dia mengedit seadanya hingga berwujud sebuah cerita beralur. Diikutkan awarding, pasrah, menang, mendapatkan award dengan komentar “alur cerita yang menarik dengan edit gambar yang berani”.

Ketika kamu ujianpun, dengan materi yang banyak banget, dan waktu belajar yang terbatas, dan ketika kamu tidak yakin penuh dengan apa yang kamu kerjakan, jangan lupa bahwa kamu punya Tuhan.

Thursday, May 22, 2014

70:20:10

Marilah coba memberi kesimpulan untuk beberapa hari terakhir ini.

Kuliah udah semakin ribet. Eh enggak dari awal emang ribet, tapi baru sekarang mulai serius kuliah walaupun di kelas masih tidur dan ngulet-ngulet, oke itu normal *lalu liat sekeliling. Lulus tepat waktu adalah salah satu cara agar jodohmu cepat datang *atau tidak?

Abankirenk semakin lucu. Suatu sore ngobrolin reklame sampe sultan Turki yang dikudeta sama Ataturk. Then you realize how fun learn is.

Semalem aku ketemu kamu. Lagi. Tentu disebuah mimpi. Mimpi yang bersudah indah, bergidik tidak, berlalu syahdu, berpeluk peluh, bersenyum berlalu, teriring masa lalu, berteladan budi, sudah, sudah, berlalulah.

Mendadak sajak.

Satu hal yang hanya dimiliki satu orang: perubahan yang berlalu pada dirinya. Sic transit gloria mundi, ga ada perubahan yang abadi kecuali perubahan itu sendiri, semua orang pernah mencoba menjadi seseorang yang lain. Tanpa disadari ada seseorang yang pengen jadi dirinya. Cuma nggak tau aja dia lebih hebat dari yang dikira.

Perubahan bisa didatangkan dengan waktu. Yang biasanya terkontrol oleh waktu, coba kontrol waktu.
70% waktumu untuk hal yang kamu lakukan sehari-hari: kuliah, kerja, apapun yang menjadi tugas utamamu.
20% waktumu untuk hal yang kamu sukai dan bakal berguna dikemudian hari: hobimu, basketmu, kompetisimu.
10% waktumu berikan kepada apa yang bener bikin kamu fun & fired up: gaming, baca buku, ngopi lucu, 9gag, nonton yang itu keluar emang bikin kamu seneng dan nggak meninggalkan beban pikiran.

Jika 100% waktumu buat apa yang kamu lakuin sekarang, emang kamu jadi here-and-now-man, tapi besok itu nggak sama kaya hari ini.

Jika 50% waktumu buat apa yang baru bakal berguna dikemudian hari, kamu nggak hidup. Karena bahagia berasal dari here & now.

Jika 25% waktumu buat apa yang kamu bener suka dan tidak menghasilkan apa-apa, kamu cuma bakal makan ikan dari hasil mancing tadi siang.

70:20:10.

Sunday, February 23, 2014

To Be Nothing & To Beat No One

Pernah mengeluh tentang kepalsuan dunia? Ya semua pernah, ada yang berusaha deal with it, ada yang tetap mengeluhkan.

Dari beberapa yang memilih tetap mengeluhkan mungkin adalah mereka yang tetap berpegang teguh pada keyakinan dan prinsip-prinsip mereka. Banyak yang bilang mereka naif dan kolot. Kejujuran, keaslian, otentik, atau apalah itu. Walaupun nggak ada yang bener-bener asli di dunia ini.

Dari hal-hal yang palsu itu memang dituntut oleh kekinian. Yang kata orang-orang itu mengurangi ke-mindful-an hidup kita dan pada akhirnya, happiness decreases.

Happiness, happiness, happiness. Banyak yang membahas tentang happiness diliat dari psikologi positif, spiritual, gabungan keduanya, atau bahkan logika-logika sederhana seperti nyoto di pagi hari bareng temen-temen itu bahagia.

The highest level of happiness is let it go. Bukan bagian dari "udah ah ngalir aja, ntar dapet aja manut, ngapain manut, sedapetnya aja men, ngoyo amat" bukan sepenuhnya disitu, let it go nya itu berasal dari nggak memaksakan terlalu jauh, emang sukses-sukses itu perlu push the limit juga, tapi disini berusaha realistis, naive yet smart, live here and now. And let it go comes from sincerity. Ikhlas. Opo onone. The ability to hope nothing.

Ikhlas juga berkaitan erat sama kemurnian, purity. Kemurnian niat karena hal yang nggak bisa kita liat, karena hal yang kita perjuangkan juga hal yang belum bisa kita lihat. Dan Tuhan menilai dari kemurniannya, bukan dari grundelannya. You have to be nothing. Udu sopo-sopo.

Karma. It's because of you. Apa yang kamu lempar akan balik juga ke kamu. When you beat someone, someone will beat you back. Pernah tau kalau ternyata brand mobil Rolls Royce sama Bentley ternyata nggak pernah bikin iklan? Tapi mereka tetep survive dan dikenal. Bentley masih masuk digame balap juga mobilnya. Pemenang itu diliat dari nilai-nilai yang ada di dalamnya. Bukan apa yang dilakukan untuk menaklukan orang lain.  Kalo menang ya menang aja.

Good luck to catch the butterfly. Ohm.

What Comes Around Goes Around

Jadi ada beberapa hal di dunia yang dapat dirubah dan tidak dapat dirubah.

Yang dapat dirubah adalah takdir. Pernah denger kan ada yang bilang "Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak memperjuangkannya?" ya bunyinya kira-kira seperti itu.

Yang tidak dapat dirubah adalah what brings you here and now. Masa lalu, darah, kamu anak siapa, lahir dimana. Itu bagian mutlak. And the point is gimana dari masa lalu itu kamu bisa jadi yang terbaik bukan karena apa yang kamu cari, tapi mulai bersyukur dari apa yang dipunya.

Somehow pernah mikir "Tuhan akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak memperjuangkannya?" adalah bagian dari hidup yang nggak dapat dirubah, karena dari takdir tersebut kita ditakdirkan untuk berhasil berubah. Tergantung dari keyakinan diri kita masing-masing. What comes around goes around.

Paradox, you choose.


Sunday, March 24, 2013

Inner Peace


"I found inner peace and was able to harness the flow of the universe."


Inner peace itu kedamaian batin, ketika batin damai dan tentram maka semua kemungkinan dapat tercapai. Ada beberapa cara buat dapetin inner peace, salah satunya meditasi, tapi meditasi harus dilakukan berulang. Ada beberapa langkah yang dilakukan agar inner peace bisa lebih tahan lama dari proses meditasi.

Be honest and receive.
Langkah pertama adalah jujur kepada diri sendiri. Kita harus menyadari mau menerima kekurangan dan kelebihan diri sendiri, karena dari kekurangan itu, dapat dicounter jadi kelebihan, dan sebuah kelebihan juga memiliki kekurangannya. Tidak ada yang murni baik dan tidak ada yang murni buruk.

Be yourself.
Tuhan menurunkan kita ke dunia memunyai maksud tujuan yang khusus. Setiap orang mempunyai fungsinya masing-masing. Apapun keadaannya, dimanapun tempatnya usahakan menjadi diri sendiri. Karena kepribadian orang lain sudah ada yang pakai. Meminta saran kepada orang lain itu perlu, disarankan malah, tetapi keputusan akhir tetap pada pelakunya, kamu. Walaupun, adaptasi penting dan harus.

Make a boundary.
Dunia itu luas, semua informasi yang kamu suka dan tidak suka mudah sekali datang. Bukannya skeptis bukannya sombong akan kemampuannya sendiri, tapi poinnya bukan berapa banyak informasi yang masuk tapi seberapa bermanfaatkah informasi yang masuk. Kita tidak bisa menampung semuanya.

Share your honest.
Setelah jujur kepada diri sendiri harus jujur kepada orang lain. Kebenaran sejati adalah kebenaran yang diakui orang lain.

Sadar dengan apa yang dilakukan.
Sering kita melakukan sesuatu asal-asalan, ketika jatuh akhirnya kelabakan. Sebaiknya memulainya harus dengan berpikir agar tanggung jawab dapat dilakukan. Walaupun tetep harus berani, harus risk taker. Dan tidak menutup kemungkinan untuk mencoba sesuatu yang baru.

Do what you love and love what you do.
Be happy with your day! Mau bagaimanapun, menikmati proses itu yang utama. Karena proses yang baik akan membawa hasil yang baik pula. Karena proses yang bahagia akan berakhir bahagia.

Stick to the plan, follow your passion.
Dunia ini bukan tentang seberapa menderitanya perjuanganmu, tapi dunia ini tentang seberapa menyenangkannya apa yang kamu lakukan. Cita-cita dan passion merupakan dasar untuk berbuat. Dasar dari ini semua adalah ikhlas dengan apa yang dikerjakan, dan yang paling ikhlas saat kita dijalur yang direncanakan, karena jika kita tidak menyiapkan rencana, orang lain yang akan merencanakan kita.

May the Force be with you.
Semua kuasa ada ditangan Tuhan. Sisakan harimu untuk menyadari bahwa kamu tetaplah ciptaan yang sama dengan orang-orang lain dan yakinkan rencana Tuhan selalu lebih indah.

Be happy, folks!

Wednesday, January 23, 2013

Pulang Malam


Ada beberapa hal yang terhubung dengan kebahagiaan. Salah satu kebahagiaan kecil adalah kesemprot air lembut yang dialirin di atas kepala kita di taman pintar, tapi kalo sengaja masang badan buat disemprot udah nggak seru hehehe.

Satu lagi yang menjadi sumber kebahagiaan saya, tetapi tidak bisa dilakukan setiap hari: pulang malem. Pulang malem disini diatas jam 22:30. Ketika jalan udah sepi dan yang rame cuma café. Kenapa menyenangkan membahagiakan?

Ketika pulang jam segitu udara dingin dan lumayan segar, jarang didapatkan dipagi hari karena banyak diantara nenek-nenek atau kakek-kakek kita yang masih bakar sampah setelah menyapu halaman. Untuk mendapatkan udara segar dipagi hari perlu bangun sebelum nenek-kakek tersebut bangun. Susah ya? Hehehe. Sebenernya udara segarnya juga boongan, wong oksigennya dikit. Tapi sensasinya sama hahaha.

Kedua. Kebanyakan toko sudah tutup dan baru mulai beres-beres mau tutup. Di toko yang sudah tutup, anak dan orang jalanan mulai menggelar selimut mereka dan mulai menggigil tidur. Setelah itu tinggal bertanya saja ‘nikmat Tuhan apa yang akan kamu dustakan?’

Ketiga. Beberapa orang masih sibuk bekerja. Tukang martabak dan tukang delivery order. Mengingatkan kita akan kecintaan pekerjaan (atau mepetnya keadaan?).

Keempat. Bau asap sate yang begitu jernih dari tukang sate dan sate bakarannya.

Kelima. Terwujud kesetiaan. Sering liat sepasang kekasih, biasanya yang lelaki baru saja jemput wanitanya. Lelakinya udah ngantuk sayu masih mau jemput wanitannya. Cih mendayu.

Keenam. The best thing, you can sing sambil teriak-teriak secretly. Kita bisa nyanyi apapun yang kita mau, sekeras apapun, dan jarang orang tau dan peduli! Hahaha.

Tapi beberapa kurang nyamannya, kita harus mengendap-endap di rumah sendiri. Harus waspada tentang sekeliling. Dan ditanya tetangga ‘baru pulang, mas?’

Friday, January 11, 2013

Tawar Saja Sampai Hamil

Sudahkah anda menawar hari ini? hahaha. Indonesia itu negara nawar, apa-apa ditawar, kemampuan negosiasinya diatas rata-rata. Mau beli barang nego, mau berangkat kuliah nego berangkat atau enggak, sikasih tugas langsung nego kumpulinnya paling lambat tanggal berapa jam berapa, bangun tidur nego 5 menit lagi (hei ini harus hahaha).

Seberapa perlunya nego? Kita mulai bernegosiasi itu agar keuntungan yang didapat lebih banyak, rugi lebih sedikit, bagi kita, nggak tau bagi lawan bicaranya. Sebenernya nego itu nggak untung-untung amat juga, ada ruginya. Contoh: menego untuk enak hidupnya, untuk sekarang, nggak tahu besoknya.

Kalau mau masuk kerja dinego bisa? "Organisasi anda aktif tapi kenapa IP-nya pasif?" "lha saya bla bla bla bla". Tapi iya emang bener? Bad man find a reason, good man find the way.

Tapi ada perkecualian, ada yang nggak bisa dinego. Contohnya aja proposal suntingan. Percaya, calon mertuamu nggak mau nego tentang kamu udah kerja atau belum, setirmu lurus atau benkong bunder, gasmu di tangan atau di kaki, kamu punya pedal kopling atau enggak, atau kamu mau sekarang atau enggak? Walaupun terdengar klise, ekonomi juga penting, cinta sih cinta tapi sepiring berdua atau sepiring satu-satu pilih mana? (Pesan mamanya Farah yang satu ini bener-bener mengiang hehehe).

Wednesday, January 9, 2013

Riiliti



Kadang kita harus sadar kalau kita sekarang ada di realita. Bahwa kita belum mengenggam apapun sekarang. Bahwa keberhasilan kemarin adalah ilusi. Bahwa tawaan semalam di warung kopi hanya ilusi. Bahwa realitanya kita sendiri, aku sendiri, kamu sendiri. Sesendirinya kendali lirikan matamu akan pembacaan tulisan ini.

Realitanya yang kamu tanggungjawabi hanyalah dirimu sendiri. Realitanya yang kamu perjuangkan akhirnya hanyalah dirimu sendiri. Dan ketika di padang megah masyar nanti yang dihitung perbuatan kita sendiri.

Perbuatan kita sendiri kepada diri sendiri dan orang lain.

Realita kadang menentang harapan. Berharap itu boleh, tapi jika realita yang diinginkan belum tercapai berarti cara yang dilakukan masih belum pas. Dan berharap akan harapan tanpa realita kekinian untuk bergerak mencari cara terbaik sama saja naif. Pada realitanya masalah diri kita hanya bersumber dari diri kita sendiri, harapan yang kadang terlalu jauh sementara bergerak saja tidak. Expect less.

Semua orang bergumam tentang kepemimpinan orang mereka, memilih iya, membantu tidak. Membantu yang maksimal maksudnya. Mau banget dimengerti orang lain?

Realitanya sholat hanya setiap jumat tapi minta saja segede alphard. Give more.



Pada pengharapannya bekerja harus menurut kesukaan kecintaan pada bidang itu, realitannya hanya sedikit yang berani menantang hari untuk mendapatkannya. Hanya sedikit yang mengambil resiko untuk itu. Penjual pulsa di jalan c simanjuntak ini lumayan nyentrik, motornya 250cc, kalo lagi nunggu konter dia pegangnya laptop. Tv dibelakang itu LCD, siarannya TV kabel. Kata Deni passionnya mungkin jual pulsa.



Realitannya cinta hanya berisikan kepercayaan dan keikhlasan. Mereka berdua selalu berjalan berdua setiap pagi setiap sore bergandengan mereka-reka jalan. Realitanya komitmen adalah indah berakhirnya. Sang istri tidak pernah menyalahkan sang pengemudi jika salah jalan karena mereka sadar bahwa mereka mempunyai kekurangan yang tidak ada gunanya untuk digunjingkan karena jika kekurangan mulai digali maka tidak akan habis. Mereka memilih untuk tetap bersyukur mengasihi apa yang ada, berkasihterimakan tangan yang bisa berjabat menggandeng dengan hangat penuh caya dan ikhlas. Tidak ada yang lebih syahdu. Bersyukurlah.

Mengeluhlah sesuka mulut karena realitanya keluhmu melemahkanmu walaupun akan bahagia barang sesaat. Karena ketika kita masih mengeluh tentang apa yang terjadi, kita belum benar tahu realita apa yang ada dibaliknya.

Mari berpikir, semuanya turun beralasan. Tuhan bersama mereka yang mau berusaha menempuh realita terbaik dalam hidupnya bukan mereka yang keluh kesah galau keraguan. Expect less. Mengertilah orang lain terlebih dahulu. Give more. Tantang harimu. Bersyukur. Berbahagialah.

Thursday, January 3, 2013

Sir Thompson


Hari ini cinta itu kambing hitam. Apa-apa atas nama cinta. Mau ngapain atas nama cinta. Mau membunuh atas nama cinta. Mau demo atas nama cinta. Kadang kalo mentok juga cuma bilang, “kalau udah cinta mau gimana lagi?”

Sudah sejak pertengahan 2012 vespa saya yang biru itu mau bernama. Awalnya terinspirasi dari Jenny-nya Forrest Gump, yang karena bernama Jenny niat cari ikannya masih sama. Cinta lagi. Kalau udah cinta mau gimana lagi? Mulailah cari nama beserta makna blusukannya. Yang kira-kira masuk ketika dipikir kalau nama itu nama teman yang hangat, yang mengerti, peneman siang dan malam. Dari beberapa keluar satu, Caroline. Caroline udah sempat bertetap, tetapi semakin dirasa semakin jenaka. Badan gede cat gelap lampu jumbo bernama wanita, nggak wangun blas.


Vespanya sempat biseksual juga, kalau siang Caroline, kalau malem Bantolo. Kalau siang yangsayangan kemana-mana dianggap kencan, kalau malem brabrobrabro dianggap obrolan tahu bacem teh jahe di angkringan depan sambas. Masih ganjal juga, selain nama malemnya itu mau dikhususkan untuk tahap gandengan yang selanjutnya (matih hahaha), saya nggak rela vespa saya biseks.

Kemudian berbuah nama lagi yang kira-kira berwakil kepada kegedean badan, kemaskulinan catnya, keteguh idealisnya dibalik kesantaiannya jalan, keramahan, dan pengalamannya: Thompson. Kalau dirasa itu namanya itu compact (semacam bodi mobil gitu ya?), padet, dan asli luar negeri. Lebih baik naik vespa, lebih baik mbonceng Sir Thompson. Berkendara dan berbahagialah.

New Year


Happy new year everybody! Jam berapa sampe rumah kemarin? Kalo saya sih tidur dari jam 8 malem dan ikut ganti tahun baru jam 1, bangun gara-gara karaokean di rumah seberang sudah sampe sayonara sampai berjumpa pulang huehehehe. Sebelum menjunjung resolusi yang baru pada tahun ini lucunya emang mengevaluasi pencapaian tahun 2012, dari beberapa yang saya ingat ada beberapa yang tercapai, belum signifikan.

Resolusi saya ditahun ini hanya satu, berhasil menjadi diri sendiri. Tanpa didogma orang lain. Diri sendiri yang bernafas lega. Diri sendiri yang berdiri sendiri. Diri sendiri yang terkalahkan diri sendirinya yang sejati. Diri sendiri yang tetap menjadi dirinya. Dan tentunya diri sendiri yang membebaskan seorang penyendiri yang bersamping rindu.

Dan resolusi ini tidak berjangka 365, 365 hanyalah jumlah hari yang baru untuk diikuti siklusnya. Manusia memiliki siklus, peradaban memiliki siklus, negara memiliki siklus, semuannya memiliki siklus. Dan manusia baiknya membuat siklusnya sendiri, karena hidup, hidupnya juga.

amsyong

Saya semangat menyambut siklus baru ini. Ditembok ruang keluarga saya sudah terpaku kalender cina yang setiap hari satu sobekan huehehehe. Menyadarkan bahwa yang ditiduri semalam itu hanya pengalaman yang berteladan. Yang ditiduri semalam adalah refleksi sehari untuk diperbaharui. Dan menyadarkan bahwa yang kamu ambil dipagi segar ini adalah lembaran bekas yang dibaliknya terluas ruang untuk rencana harapan untuk menggapai resolusimu. Menyadarkan bahwa yang bertatap pagi ini adalah waktu yang akan berteman menyambut sesederhana senyum untuk perbuatan yang kamu harap semalam kepada Tuhan. Berbahagialah.

Sunday, November 4, 2012

Mufakat

Pernah bertanya-tanya kenapa seminggu itu dimulai Senin? Kenapa setelah 6 pasti 7? Atau kenapa bulan keempat itu April? Itu semua adalah mufakat para orang terdahulu sebelum kita. Orang dulu berkumpul, membahas, mencari nama-nama itu, mencari filosofi paling mulia, dan bersepakat.

Sebenarnya semua itu mufakat. Aturan yang dibuat di dunia ini semuanya hasil mufakat. Ilmu pun juga begitu, kenapa 3x7=21 atau kenapa dalem paru-paru yang memfilter udara namanya alveolus kenapa bikin video porno di taman kota itu tidak etis dan kenapa kenapa lainnya itu mufakat. Mufakat terbaik untuk kebaikan yang paling baik untuk manusia, sementara ini.

Bermufakat dengan orang lain tidak sesederhana ‘ya’. Seseorang mempunyai tujuan untuk dipertahankan, kita juga mempunyainya. Seseorang mempunyai masa lalu untuk diteladani, kita pun. Seseorang mempunyai kondisinya sendiri-sendiri, sama dengan kita. Bagaimana cara bermufakat yang kedua berasa menang?




Mari mengeri apa yang dimaui teman bermufakat kita. Dengarkan ide-ide mereka, cerna, pikirkan, putuskan. Tidak ada ide yang jelek yang ada hanya ide yang belum terpakai, tulis Yoris. Mari buat ide itu seterpakai mungkin dengan cara membesarkan wawasan kita, pengetahuan, dan hati kita. Semakin besar wawasan, pengetahuan, dan hati akan membuat kita mudah mencerna ide dan akan mudah bermufakat, setidaknya lebih cepat dalam bermufakat. Ibaratkan saja wawasan, pengetahuan, dan besarnya hati itu adalah titik-titik yang membuat bangun-bangun ini. Dengan sedikit titik-titiknya, sudut yang dibuat akan semakin kecil semakin lancip, jika dikenai orang lain akan lebih sakit dibandingkan dengan bangun yang bertitik banyak, dengan sudut yang tumpul akan membuat itu tidak sakit. Sejatinya lingkaran itu adalah bangun segi enam, segi delapan, segi enam puluh lima yang titik-titik pembuatnya begitu banyak hingga garis-garis yang menghubungkan titik tidak terlihat lagi. Semakin banyak titik, semakin melingkar, semakin tidak sakit mengena orang.

Disamping itu semua, tidak ada yang lebih penting dari bermufakat diri sendiri. Sering lebih susah bermufakat dengan diri sendiri daripada orang lain. Silahkan ambil mufakat yang paling mendekatkan diri kita dengan tujuan kita, tujuanmu membentukmu. Dan mufakatlah jika kita tau tujuan itu sudah di depan kita delapan langkah, majulah langsung delapan langkah tidak usah belok kanan belok kiri, waktumu kita tidak banyak. Mas Adin –kakak angkatan- yang berujar tentang berjalan lurus ke tujuan itu.

Mufakat yang tidak bisa kita tahu maksud dan tujuannya itu hanya mufakat Tuhan dengan diriNya. MufakatNya belum mufakat. Masih harus menunggu waktu untuk mengetahui mufakat antara Tuhan dengan Malaikat Izrail kapan kita kembali mengarwah. Masih harus menunggu waktu untuk mengetahui mufakat Tuhan dengan takdir seseorang yang akan menjadi sandingan di foto ruang tamumu kelak.

Mari kita berjalan lurus ke tujuan kita, menjadi lingkaran, dan berpasrah hidup kepada Tuhan, karena mufakat Tuhan tentang kita, hanya tinggal waktu saja. Mufakat ya?

Monday, October 15, 2012

Angin Berhemus Bercabang

Barusan buka email dari Isna, hasil rapat sosialiasi universitas buat wibhakta angkatan XXIX, dibuatin anak-anak fresh graduate, kami. Setelah mengamati beberapa poin tiba-tiba sampai ke "iuran panitia: 5000". Bukan besar kecilnya, tapi ini yang buat siapa, untuk siapa, yang butuh siapa, tapi yang iuran siapa.

Judul postnya mirip sama liriknya Payung Teduh yang Angin Pujaan Hujan, emang baru suka-sukanya Payung Teduh. Nggak ada hubungannya sih, but never mind yoben. Jangan heran baru jalan diem tiba-tiba "sang pujaan tak jugaaa dataangg angiin berhembus bercabangggg rindukuuuu berbuah lahhharraaaa." Amit-amit jadi kenyataan. Bentar aja deh sukanya.

Yang ikut rapat-rapat itu yang dulunya anak dekil organisasi, berangkat pagi jam 6.30 nempel pamflet, di kelas tidur ngiler, istirahat ngacir rapat kilat, pulang kumpul, baru pulang ketika parkiran butuh senter, sampe rumah ditawarin orang tua pindah sekolah karena ini niat sekolah apa enggak. Nggak segitu juga sih, nggak semua memenuhi itu, rata-rata cuma 1 sampe 2 kriteria diatas. Buat apa sih? Mau-maunya gitu. Ini investasi, investasi pengalaman dan investasi persaudaraan. Wih *kipas-kipas

Emang organisasi itu perlu dipelajari sembari belajar materi kurikulum. Kadang orang-orang organisasi sebegitu kritisnya sampe tanya "ngapain aku sekolah?" "ngapain harus belajar ini kalau enggak dipake?" "ini tugas segini banyak terus langsung paham gitu?" dan pengkritis-pengkritis lainnya. Ujungnya, ada yang bisa lulus memuaskan, lulus memalukan. Ternyata, walaupun cara yang harus ditempuh itu tidak disukai sama sekali, jika emang itu prosedurnya, ya harus jalani. Kita tidak bisa berbuat banyak sekarang, jadi thrive under it *anak FM, ndro!

Setelah kapok mengkritisi segala keadaan, aku mau kalem di fase ini. Fase kuliah mau aman tentram damai walaupun dosen-dosen mengompori mahasiswa agar mengompori mahasiswa lain untuk mengompori pemerintah untuk mengompori kebijakan yang diambil. Mengompori-ception. Mengompori didalam mengompori. Cukup, Pak!

Prinsipnya mau organisasi yang disukai aja ini di kuliah. Kan mau lulus muda, ndro. Investasi yang dulu jadi hobi sih tetep perlu dilakukan, nyatanya juga banyak orang yang bisa investasi itu tanpa organisasi. Lamanya investasi yang sampe angin pun bercabang ini semoga berhasil. Amin.

PS: Sertakan nama dicomment nanti kalo investasi berhasil sukses bakal dapet traktiran. Serius.