Thursday, August 26, 2021

Pura Vida

Ada satu teman saya yang usianya terasa lebih tua dari kelihatannya. Aku curiga dia mencuri umur barang 2 tahun di kartu keluarga sebelum masuk sekolah. Namanya Alan. Dia terasa lebih tua karena sudut pandang yang dia punya lebih tua dari orang seusianya, termasuk pertanyaan, dan caranya memproses pengalaman sehari-hari.

Satu sore ketika kami bersama di daerah Pogung, Alan bertanya, "kamu bikin playlist kenapa?"

Pogung
Pogung

"Soalnya spotify-ku nggak premium Lan". Bukan, bukan itu jawaban yang dibutuhkan Alan.

Playlist bagi saya adalah rangkuman pengalaman yang ingin saya maknai tertentu. Contoh ada satu playlist berjudul no agenda tomorrow. Saat membuat playlist itu saya membayangkan sedang tertarik dengan satu wanita, tapi karena kesibukan kami hanya sempat bertemu sesempatnya setelah pulang kerja. Bayangkan baru saja bertemu, mau pergi keluar sudah terlalu malam, mau pulang dan istirahat masih terlalu sore (dan masih terlalu kangen, barangkali). Maka dari itu saya tulis dalam deskripsi playlist-nya "too early to sleep, too late to go out. How about lay down and tell me something about you?"

Atau playlist yang berjudul sanur. Dengan memutar sanur saya membayangkan sedang dalam suasana santai seperti di alam Sanur, Bali. Saya memilih kata sanur karena dengan mendengarkan lagu santai tidak lantas kita lari dari masalah. Santai bagi sanur adalah cara hidup, lakon sehari-hari. Bekerja dengan santai, makan dengan santai, jalan dengan santai menyadari setiap langkah yang diambil. Santai dan stress bukan seperti kata kebalikan, tapi kelengkapan. Seperti Sanur Bali yang ditinggali orang-orang yang cenderung lebih tua dari pada daerah lain di Bali Selatan. Orang-orangnya santai tapi sembodo.

Ada satu playlist yang saya cukup lama memaknainya. Yaitu playlist pura vida. Awalnya saya menemukan pura vida dari ungkapan khas di kawasan Amerika Tengah yang berarti simple life atau pure life. Saudara satu equator. Saya selalu memandang kawasan yang berada pada sekitar equator bumi adalah saudara, karena cenderung memiliki kondisi yang sama, perilaku budaya yang sama, inti pandangan yang sama, dan suasana yang sama. Tapi kalau deskripsi playlist pura vida ditulis "pure life" kenapa saya rasa belum tepat juga ya?

Jika digali lebih dalam, pura vida seolah-olah punya makna yang sama seperti hakuna matata. Sama juga dengan "this too shall pass" sebuah ungkapan dari orang Persia kerajaan. Seperti konsep impermanence yang dibahas di dalam ruang dhamasala vihara. Bahkan makna yang sama tertuang di 2 Corinthians 4:17-18 tentang keberadaan masalah itu tidak permanen, enteng saja, hidup simpel saja!

Pura vida lalu saya simpulkan sebagai sebuah daya hidup yang setiap kita punya. Yang selalu nyala di dalam walaupun luaran sedang muram. Yang selalu di sana walaupun tidak selalu diakui ada. Yang menjadi panggilan untuk hidup enteng saja, karena batu kerikil akan selalu ada, tapi akan terlewat juga, habis dilewati nanti juga bakal ada kerikil lagi, yang penting hidup enteng saja!


Saturday, May 23, 2020

Ramadhan & Bartender

Jogja tu kurangnya satu: live bar. Satu bar panjang, beberapa round table tanpa taplak, panggung yang nggak begitu tinggi, dan momen chill yang bisa bareng-bareng atau sendiri. Aku pernah denger, bartender bisa jadi teman terbaikmu. Nggak semua orang datang ke bar bareng-bareng. Nggak semua orang datang ke bar untuk bersosialisasi dengan banyak orang. Ketika dateng sendiri dan tidak ingin bersosialisasi dengan banyak orang, siapa yang diajak ngobrol? Benar, bartender. Bukan juga tentang curhatnya apa atau interaksinya seintens apa, tapi pertanyaannya: apa yang dia pikiran dan rasakan ketika tau banyak sisi dari orang lain?

Apa kombinasi paling bagus di awal 2020 selain korona dan ramadhan? Korona membuat kita tetap di rumah, ramadhan membuat kita tidak bisa makan. Beban ramadhan tahun ini serasa dua kali lipat. Bukber nggak ada, sahur bareng nggak ada, reuni nggak ada, cuma sahur buka di tempat yang sama dengan orang yang sama.

Seperti bartender, ramadhan kali ini mendengarkan cerita kita yang sedang datang sendiri. Kalau kita datang hanya untuk berkunjung dan tidak membawa cerita, dia menawarkan makanan dan minuman yang sedang ia temukan. Satu dua menu diberikan agar kita merasa tenang. Satu dua menu diberikan untuk kita memahami keadaan. Satu dua menu disajikan agar kita paham dan siap dengan kenyataan. Ramadhan mendengarkan dengan cermat, kadang ia menemukan celah-celah di mana celetukan-celetukan serampangan namun benar bisa masuk. Mungkin ramadhan bisa menjadi bartender langganan. Dengar-dengar dia lahir di arab ya?

Sunday, May 3, 2020

Kalender Korona

Ada satu akun youtube yang sering saya buka dua minggu tiga minggu terakhir. Nama akunnya P'Dhede Ciptamas61. Akun ini menyediakan rekaman lagu-lagu Indonesia medio 1950 dan 1960. Lagu-lagu ini direkam dari piringan hitam. Jadi kita akan menemukan suara kresek-kresek gesekan antara jarum dan pemutarnya. Suasana yang dibangun seperti malam di kota tua, menggunakan bowlling shirt dimasukkan ke dalam chino pants dengan sepatu loafer. Duduk sendiri melihat penyanyi dibawah spotlight warna kuning oranye di atas panggung yang tidak terlalu tinggi, menyanyi menuju sepertiga malam. Mungkin Soe Hok Gie lewat depan live cafe yang sedang kamu kunjungi ini. P'Dhede Ciptamas61 adalah penemuan yang rasanya akan susah untuk ditemukan kalau karantina ini tidak ada.




"Ini adalah waktu, di mana seberapa keras kita berusaha, dapetnya segitu juga", kata teman suatu malam. "Korona menghilangkan mimpi pengusaha, pokoknya aku mau survive aja cukup", tekad seorang teman setelah merekap keuangan bulanan usahanya. Korona merubah banyak hal. Dari proyeksi pembangunan, sequence produksi, sampai pola konsumsi pasar. Seolah manusia yang berencana, korona yang menentukan.

"Kalau ada yin dan ada yang, momen ini adalah momen yin yang warnanya putih. Kalau yang kan kita push, usaha, kalkulasi, berencana. Kalau yin itu refleksi, diam, surrender, dan kontemplasi. Karena udah ga ada yang bisa kita lakuin kecuali itu. Dah surrender udah paling bener", kata seorang teman di ujung telfon jam 11 malam. Korona menyediakan banyak waktu untuk melakukan apapun, lakukanlah apa yang yin lakukan, walaupun hanya semalam.


Saturday, December 28, 2019

Untuk Hal-Hal yang Tidak Terlihat

Senin malam, kedua kalinya film kucumbu tubuh indahku (2018) hadir di bioskop. Kedua kalinya pula saya menonton film ini setelah pertama pada bulan April 2019. Mendapatkan kesempatan menonton film ini sampai kedua kali adalah hal yang menyenangkan. Sesuai prediksi, banyak hal baru yang saya temukan setelah nonton untuk kedua kalinya. Keluar dari studio salah satu teman bilang, "capek banget nonton film ini." Kok nonton film bisa capek?

Setiap orang dapat melakukan dua hal yang tidak terlihat. Yaitu empati dan simpati. Empati bisa diartikan ketika kita menempatkan kaki kita di sepatu orang lain. Menempatkan posisi diri pada kondisi orang lain. Sedangkan simpati menempatkan posisi diri terhadap kondisi orang lain. Teman saya, melakukan kedua hal tersebut ketika menonton film kucumbu.

Setiap orang melakukan proses-proses yang tidak terlihat setiap saat atau bisa disebut background process. Proses tersebut lebih kepada hal-hal yang dilakukan otomatis atau di luar kesadaran kita. Rata-rata manusia memiliki 5 panca indra, setiap saat, kita memproses informasi yang kita tangkap dari 5 panca indra kita ini. Apakah ada batasannya?

Setiap orang memiliki mental capacity. Setiap orang memiliki mental capacity masing-masing. Terjemahan bebas dari mental capacity adalah kemampuan mengambil keputusan sendiri. Untuk memahaminya ada contoh lebih populer, misal ketika kita mengambil satu keputusan besar, lalu kita membutuhkan waktu untuk calm down sebelum bisa berfungsi seperti biasa. Ini juga yang menjadi sebab beberapa orang memiliki pakaian yang sama dalam jenis banyak, karena tidak perlu memilih, tidak perlu menggunakan mental capacity yang besar, karena memang tidak ada perbedaan akibat dari pilihan pakaian.

Pernah suatu ketika, saya mengantar teman saya untuk melamar gadisnya di daerah utara jawa. Pada salah satu rangkaian acara, malam hari, semua berkumpul melingkar dengan hangat, salah satu keluarga dari si gadis memberikan speech, kalimat terakhir speech-nya "tolong sayangi dia lahir dan batin." Lahir dan batin. Ada batin dalam pesan tersebut. Bagaimana kita bisa memastikan untuk hal-hal yang tidak terlihat? Mungkin hal-hal yang tidak terlihat itu ada memang bukan untuk ditunjukan, tapi sebagai niat diri untuk menghadapi proses setiap hari.

Untuk hal hal yang tidak terlihat, tetaplah tidak terlihat agar kami dapat menghargai apa yang kami lihat.

Sunday, February 17, 2019

Jindartoko

Suatu hari saya berkunjung ke Ciledug, rumah sepupu saya. Bertanya tentang keadaan anaknya, yang baru saja ditinggal bapaknya.